Selasa, 24 Desember 2019

puisi ''rindu dipenghujung malam''


rindu dipenghujung malam

Angin kembali mengelambui tubuh
Desir-desirnya menjelma bunga kebaikan
Mencoba mendamaikan rindu yang bangun dari mimpi buruk
Terpuruk dari tidur yang beralas sabar
Yang sudah hampir terkeruh surut
Jika malam benar-benar sunyi ditinggal sang sore
Telinga siapa yang siap menampung bunyi keluhnya
Mulut siapa yang siap merakit kalimat-kalimat penyemangat untuknya
Oh tidak
Barangkali aku terlalu menyepelekan
Mungkin dia tidak seremeh aku
Yang tak mampu menjinakkan rindu yang begitu riuh
Yang tak sanggup memagari temu untuk berteduh dahulu
Ahh sudahlah
Mungkin aku dan malam benar-benar senasib
Petualang yang tak tau jalan pulang
Yang tak mempan jika ditinggal sendirian
Tapi tak apa
Akan kusampaikan pesanku pada sepoi angin malam
Yang telah kusisipkan sebuah kecupan
Kuharap mendarat tepat  didaratan keningmu
Akan kulipat jarak dengan menyusup diantara bunga tidurmu
Kubuat mimpimu menjadi angkasa bertabur kelap-kelip bintang

Sabtu, 14 Desember 2019

Puisi mahasiswa "penjara kamarku"


Penjara kamarku

Terlentang
Tubuhku terlentang pasrah akan nyaman
Diriku kutitip pada penjara yang kurasa aman
Semangat pendahuluku harus rontok dikelabui oleh zaman
Ruang-ruang imajinasi dipagari ruang-ruang yang terfasilitasi
Sungguh hebat perjuangan para pahlawan
menggadaikan nyawa demi sebuah kemerdekaan
Sementara aku
Aku dan generasiku
Masih sibuk berpacu dengan handphone keluaran terbaru, menyalin kata rayu dari kutipan penyair pendahulu menjadikan lawan jenis layu
Bagai bunga yang tak disiram seminggu yang lalu
Sungguh malang jiwa-jiwa yang melayang
Mungkin hujan kemarin turun untuk sebuah maksud
Atau mungkin hujan kemarin adalah ribuan air mata para pejuang yang menangis jauh di awan sana
Melihat pemuda
Melihat pemudi
Melihat saya
Melihat kau
Melihat kita semua
Masih betah dengan kopi dan wifi berkecepatan tinggi
Masih sibuk menyinggung berjuang mengihibur diri dalam rentatan insta story
Masih enggan hijrah jadi budak teknologi
Terbelenggu terprivasi
Kemampuanku sampai sini saja
Generasiku akan begini-begini saja
Sebelum kita keluar dari zona nyaman
Mengendalikan setiap tantangan zaman
Kurangi cari aman
Diluar sana kita akan cemerlang



Sabtu, 17 Agustus 2019

 "DUNGU"

dipekat malam aku menepi
mencari tempat yang paling gelap
dan merenung

sengaja untuk memikirkanmu
mencari sesuatu
memilahnya dengan jitu
dari hal yang haru
hingga yang berubah menjadi hura

lalu tak sengaja terlelap
dan
kembali tersadar

pagi ini
matahari sedang percaya diri
cakrawala menyombongkan diri
menunjukkan jati
sedangkan jiwaku kembali
pada nurani

terpejam lalu gelap
berharap pikiranku segera lenyap
dan membuka nyatanya semua hilang
setelah hamparan samudra awan
menghiasi dan canda para kawan
aku kembali mengenggam cawan
menikmati walau itu sisa semalam

Aku kira kau tak akan pergi
sebab kau selalu berjanji
aku kira kau akan menetap
sebab kau selalu meyakinkan dengan tatap


Biring Panting, 28 Juli 2019 
oleh hahamiddd

Kamis, 08 Agustus 2019

"libur,bencana yang terencana"

Libur, bencana yang terencana

Kampus 2 uin alauddin

Malamku tak lagi bergelimang bintang
Sebab kelap-kelipnya menjelma kekhawatiran
Masihkah hadirku menjadi solusi saat kau hampir mati diujung penyayatan?
Atau mungkin tingkahku tak lagi menjadi alasan senyum penuh kiasan?
Sungguh hidupku penuh manipulasi
Berkata semua baik-baik saja disini
Sedangkan tak disisi hanyalah lumpuh tak berdiri
Padahal kau sudah permisi
Berjanji kembali dikemudian hari
Kini sabar dan rinduku tak henti berembuk
Menentukan penguasa lorong-lorong hati yang sedari lama sepi
Atas kuasa siapa semuanya memburuk
Jika membunuh orang adalah melanggar
Mengapa jarak tak pernah dihukum?
Mengapa waktu tak pernah kena ganjaran?
Sedangkan mereka telah membantai secara berencana
Atas dua manusia yang sedang memadu warna
Pisah karena musim libur tak kunjung reda
Kuharap doaku akurat kesana
Kutunggu kau dilembaran akhir buku penantian
Menulis ulang harapan yang sudah usang
Ditelan habis libur tak bertepian

Rabu, 07 Agustus 2019

Lika liku seru menuju puncak bawakaraeng


Lika liku seru menuju puncak bawakaraeng

Desa lembanna

   Kamis jam 10 malam aku dan 7 teman lainnya akhirnya sah untuk bertolak ke malino tempat gunung bawakaraeng berdomisili. Waktu yang sangat molor dari kesepakatan rapat kecil-kecilan sehari sebelumnya yang harusnya sudah otw dari jam 3 siang namun lantaran alat belum lengkap kami harus keliling untuk melengkapinya,  ya namanya juga pendaki musiman. Tapi kerennya tak satupun dari kami merasa bersalah ataupun menyalahkan, haha bagaimana tidak? Telat telah lama menjelma jadi tradisi disetiap derap langkah petualangan kami sebelumnya atau mungkin juga bisa jadi ini turunan sifat waktu sekolah dulu.
   Setelah kurang lebih 2 jam kami bergelut dengan aspal akhirnya kami sampai di sebuah desa bernama biring panting, di sebuah rumah tingkat dua yang dinginnya masuk tahap amat sekaligus kediaman salah satu teman kampus saya yang bernama nuge. Ohiya disini juga jadi tempat beristirahat kami selama satu malam sebelum esok melakukan pendakian. Dengan duduk melingkar kami hangat dalam bincang ringan ditengah dinginnya malino, sembari tuan rumah menyiapkan makanan. Nuge adalah contoh manusia yang sangat sadar diri, waktu, posisi, bagaimana tidak? Dia sangat paham dengan kami yang mudah keroncongan apabila tersenggol angin dingin meskipun minim. Namun yang disayangkan kali ini tuan rumah tidak mengindahkan ajakan kami untuk muncak bersama lantaran ada tugas yang harus diselasaikan. Selepas menyantap makanan dari tuan rumah kamipun akhirnya tumbang dan merebahkan diri, ya mungkin karena terlalu lahap hingga kekenyangan.
‌   Pagi datang pada waktunya, kamipun bergegas merapikan tempat tidur sekaligus packing ulang alat yang ingin dibawah untuk bertempur dengan gunung bawakaraeng yang katanya memiliki segudang rintangan yang melelahkan. Sesudah itu kami menyantap lagi makanan yang sedari tadi sudah disiapkan oleh tuan rumah. Berselang beberapa menit kamipun pamit menuju desa terakhir sekaligus tempat start para pendaki yang bernama desa lembanna. Sesampai di desa terakhir kami memarkir motor disalah satu rumah warga sembari menunggu waktu sholat jumat. "Yang ganteng pasti sholat jumat", kata yang selalu menjadi penyemangat langkah kami dalam melaksanakan ibadah sholat jumat. Seberes sholat, kami pun benar-benar memulai petualangan ini, yang kami mulai dengan berdoa agar kami diberi lindungan dalam setiap derap langkah kami. Perjalananku kali ini beranggotakan 8 orang, yang diantaranya ada aing, sarul, fajri, fajar, noval syukur, agus, dan saya sendiri.
   Diawal perjalanan kami asik bercerita ria, tak jarang juga saling mengolok satu sama lain. Dipertengahan menuju ke pos 1 kami memutuskan duduk sejenak sembari meminum air yang sudah diisi di rumah warga tadi. Tak ingin berlama-lama kamipun berdiri lagi dan memulai kembali ayunan kaki yang menolak kendor. Suara binatang-binatang disekitar mulai menunjukkan pesona suaranya yang seolah menyambut kedatangan kami. Berselang beberapa jam, kami akhirnya sampai di pos 2. Kami sepakat untuk mampir sejenak untuk mengisi botol air yang sedari tadi menipis sebagai amunisi melanjutkan perjalanan. Di pos ini terdapat sungai kecil mengalir yang biasa disinggahi oleh pendaki lain maupun warga lokal, namun sayangnya kali ini saya dan aing yang bertugas mengambil air harus berjalan lebih keatas dikarenakan alirannya agak surut. Selepas itu kamipun melanjutkan lagi perjalanan yang ditemani pancaran surya yang menyengat sisi-sisi kulit. Medan yang datar nan mudah perlahan menghilang, kontur jalur yang berubah-ubah semakin menguras tenaga. Seolah gunung sedang berkata "selamat datang, selamat menikmati rintangan".  Cerita juga candaan mulai berkurang, nampak wajah-wajah kusam lesuh dari kami yang menggambarkan keletihan yang tak biasa. Napas yang tak beraturan diiringi alunan detak jantung yang deras memaksa kami untuk beberapa kali duduk istirahat.
   Langkah demi langkah kita tapaki akhirnya saya tiba di pos 4 dan untuk sekian kalinya kami istirahat lagi. Saling menatap kemudian menertawai satu sama lain, itulah yang terjadi saat itu. Kami seolah-olah sedang tidak ada apa-apa padahal otot badan terasa menjerit minta ampun. Tak jarang juga diselanya kami sisipkan kata-kata untuk saling menyemangati. Sembari berbincang kami meneguk air yang sudah dicampur dengan bubuk rasa juga memakan roti coklat kemasan lima ribuan untuk menumbuhkan kembali stamina yang sedari tadi menipis. Setelah menghanguskan sebatang rokok, kami lanjut berdiri lalu kembali memulai langkah kecil menyambung rentetan rintangan. Dengan perjuangan penuh, kami lalu tiba di padang sabana yang membentang. Tempat pos 5 bersemayam. Disini kami resmi beristirahat full semalaman untuk memulihkan tenaga yang sudah lowbat. Kami membagi tugas, aku dan fajar bertugas mengambil air yang lokasinya
cukup jauh nan melelahkan sedangkan sisanya bekerja mendirikan tenda dan mengikat hammock disisinya.
   Tepat pukul 05.30 sang surya berwarna jingga dengan malu-malu mengintip dari kejauhan. Kami silih berganti meneguk kopi yang baru beberapa detik lalu selesai dibuat ditengah-tengah tenda yang terpatok kuat disela-sela hutan sabana sembari menyaksikan sore yang sebentar lagi berganti tugas dengan malam.
 ‌  Setalah langit hitam benar-benar sah menyelimuti, kami lalu mengganti dan mengeluarkan alat perang yang baru yaitu jaket outdoor tebal dan celana panjang untuk melawan jahatnya suhu dingin pegunungan. Beberapa dari kami pun mulai menunjukkan aksi dalam mengolah ransum yang sudah kami sediakan sebelumnya. Kami berkaloborasi seperti sebuah keluarga bahagia yang mencoba bertahan hidup ditengah banyaknya cobaan. Bedanya, keluarga kali ini tanpa ibu. Hahah iyalah orang kita semua batangan alias laki-laki. Setelah berlama-lama mengotak-atik air, beras, mie berkuah, wortel dan kentang, makananpun sudah siap dihidangkan. Dengan taburan tempe kecap dipotong kecil-kecil yang sudah dibuat oleh ibu fajri sehari sebelum ke malino kamipun dengan sangat bergairah menyantapnya tanpa tersisa sebutir atau setespun. Makan malam kali ini benar-benar berkesan meskipun rasanya sedikit asam, atau mungkin tetesan keringat yang sudah bercampuran. "Hahaha itu urusan perut, nanti didalam dia yang atur" kata seorang dari kami, memecah hening yang makin menjadi. 
   Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh waktu indonesia bagian timur, angin dingin makin tega menyusup ke kulit tipis yang menembus tulang ditengah panasnya bincang rombongan kami. Bincang jenaka, berbalas-balasan mencibir, saling bergantian menyeruput kopi yang masih panas jadi teman menikmati malam yang sangat asik. Saya yang berniat keluar buang air seketika dibuat terkesima oleh hamparan bintang yang tampak lebih dekat berserakan diatas langit. Sayapun langsung mengajak yang lain untuk menyaksikannya. Malam ini benar-benar paket komplit, membuat pegal sekujur tubuh seketika lenyap. Tak lama setelah itu kami lanjut tidur untuk memulihkan kondisi yang sudah berjuang maksimal seharian.
   Pagi-pagi buta, kami lalu bergegas menyiapkan makanan pagi sembari menikmati kopi. Sesuai persetujuan semalam, kami akan melanjutkan perjalanan pagi jam 07.00. Setelah menyantap makanan dan menghisap berbatang-batang rokok, kami lalu mempacking ulang barang dan membongkar tenda. Sayangnya, kami lagi-lagi molor. Semuanya baru beres jam 8 lewat. Kami lalu memulai lagi langkah dengan semangat baru. Kali ini jalur semakin rumit dengan strukturnya yang makin curam. Tapi mengingat puncak yang masih jauh sembunyi didepan sana memaksa kami harus berjuang lebih keras dari sebelumnya.

Pos 7 bawakaraeng
Pos 7 bawakaraeng

   Seberes melampaui beberapa medan kami lalu sampai di pos 7 dengan penuh terengah-engah. Parahnya, perbekalan air sudah habis. Mengingat mata air hanya ada di pos selanjutnya, kami dengan sisa tenaga menyambungkan langkah. Pos selanjutnya memiliki jarak yang terbilang jauh, sehingga kami beberapa kali terpaksa terhenti. Kami berjalan berjuang melawan diri yang sudah melampaui batasnya yang mengharuskan kami menyemangati diri sendiri. Mengingat tujuan kita saat ini adalah puncak, bukan waktu yang tepat untuk memanjakan otot-otot yang sering bermalasan saat dikota. Setelah memakan durasi waktu waktu yang lama menyusuri hutan kamipun akhirnya sampai ke pos 8. Tempat mata air bermukim, yang biasa disebut telaga bidadari. Fajri yang sudah kehausan sedari tadi dengan sigap nan lahap menengguk sebotol air yang diambilnya langsung dari sungai tersebut. Hahaha tampannya seolah ia yang memiliki sungai tersebut sepenuhnya.
Bahkan aku, fajar, agus, noval dan syukur tak peduli dengan suhu yang sudah menggigil sedari tadi. Kami menceburkan kepala sembari sampoan dan sikat gigi meskipun yang terjadi isi kepala serasa membeku. "Ambil air disitu saja, itu air cuci kaki bidadari " canda fajar sambil menunjuk kearah 2 wanita yang sedang bersih-bersih. Kami sontak tertawa terbahak, dan fajar lagi-lagi berhasil mebuat sepi jadi riuh. Saat itu juga julukannya bukan lagi raja nasi, tapi juga raja gombal haha. Karna tak ingin waktu terbuang banyak, kami dengan sigap memulai lagi mengolah persediaan makanan yang akan kami jadi sebagai bahan bakar stamina yang sedari tadi sudah hampir mogok. Sekitaran 30 menit kamipun berberes lalu bergegas menggeruskan langkah melanjutkan perjalanan.



Lajur menuju pos 9 ini termasuk lajur yang sangat curam, memaksa kami harus menaikkan level hati-hati dari yang sebelum-sebelumnya. Ditambah lagi ada jalur yang  bercabang dan mengharuskan kami ekstra jeli dalam menentukan kemana langkah harus berpijak. Dengan napas yang lagi-lagi tersengal-sengal luar biasa kamipun akhirnya sampai ke pos 9. Setelah beberapa menit berembuk, kami memutuskan membagi 2 kelompok. Setelah mengetahui informasi dari salah satu rombongan yang baru turun dari puncak mengatakan kalau di puncak airnya sedang keruh, Aing dan Agus ditugaskan untuk mengisi air yang tempatnya tak jauh dari letak pos 9 lalu sisanya lanjut menuju pos 10 sekaligus pos yang menjadi puncak gunung bawakaraeng. Kini langkah makin semangat bergegas menyusuri hutan-hutan. Puncak yang sudah didepan didepan mata seolah menjadi pelumas bagi tubuh kami yang sudah minta ampun. Meski kami harus beberapa kali lagi berhenti untuk istirahat sejenak dikarenakan jalur yang masih rumit dan jaraknya juga masih teramat jauh. Bunga edelweiss yang hinggap disekitaran jalur menjadi bumbu penyedap dalam perjalanan kami. Ia tumbuh perkasa nan cantik disela-sela rerumputan hijau. Edelweiss yang menari tertiup angin seolah menyemangati dengan bahasa isyarat.
Bunga abadi edelweiss
   Setelah berlama-lama kamipun akhirnya tiba di puncak. Tertampil wajah-wajah kepuasan yang tadinya letih setengah mati. Mata yang tak ingin kehilangan satu detik momenpun ikut bersyukur. Otot-otot tubuh yang tadinya meringis sekarang menjadi pulih seketika. Tak lama berdiam menikmati, Aing dan Agus pun tiba, kami langsung mencari tempat yang cocok untuk berkemah lagi semalaman setelah itu esok harinya kita pulang.
Puncak bawakaraeng

Setelah tenda berdiri kokoh, kami lalu membuat kopi panas untuk menjadi penghias sore dingin ini. Matahari jingga kini tak lagi malu-malu memperlihatkan pesonanya dikelilingi awan lembut yang tampak lebih dekat dari biasanya. Sang jingga perlahan meninggalkan jingganya. Menandakan dia akan pergi. Tatkala gelap benar-benar resmi menyelimuti malam. Bintang-bintang tampak lebih percaya diri menunjukkan sinarnya. Malam kini ditemani angin dingin yang menusuk sekujur tubuh tanpa permisi. Siang esoknya kami berberes lalu bergegas untuk lanjut pulang.
Perjalanan kali ini mengajarkan banyak hal kecil yang berdampak besar bagi saya. Dimana saya menemukan saudara yang tak sedarah. Bahwa apa yang kita perjuangkan itulah yang kita dapat. Dan bukan soal puncaklah yang aku banggakan, tapi prosesi menuju sanalah yang tak akan bisa terlupa.
Puncak bawakaraeng

Puncak bawakaraeng

Tugu puncak bawakaraeng


Sabtu, 20 Juli 2019

Puisi cinta " rindu yang kompromi"

Rindu yang kompromi

Rotasi kembali mempertemukanku pada malam
Ku ingat-ingat lagi yang ada dalam ingatan
Tentang lembar-lembar aktivitas mesra yang kita lewatkan
Rangkaian temu yang kita rajut beberapa hari ini
Terurai beragam kejadian
Tentang ego yang tak mampu kita redahkan
Nyatanya itu bukan sandungan yang mengacak hubungan
Sebab kita yang berupaya saling membangkitkan
Menjadikan kita pemenang dan senang menjulang
Kuharap sekarang juga harus terulang
Ah, tapi kurasa tidak
Ini sudah malam
Iya, harusnya kamu rebahan
Tunggu aku diseberang
Kuajak kau berdansa mengitari taman
Kubantu kau menjadikan mimpimu lebih berkesan
Sudahlah, memang harusnya sudah dulu
Ini kan sudah malam
Padahal siang tadi kita baru saja bersebelahan
Tapi kok aku rasa masih kekurangan
Kembali lagi kuingat-ingat yang ada dalam ingatan
Ternyata memang benar
Masih banyak list janji yang belum aku centang
Menongkrongi pantai dengan sebotol teh susu kemasan kesukaanmu
Sembari menyaksikan sore yang berganti tugas dengan malam
Memang benar masih banyak tempat yang ingin kukenalkan
Nyatanya rinduku harus rebahan
Sebab bekal staminaku takkan kubiarkan pas-pasan
Untung saja rinduku bukan babi hutan
Memangsa tak karuan
Yang setiap detiknya harus ketemuan




Minggu, 16 Juni 2019

Pagi Di Bulan Desember.

"Pagi di Bulan Desember"
Oleh hahahamiddd

Hari ini ia memberi isyarat bahwa ia akan bersedih 
Meruntih

Gemuruh demi gemuruh
Menggerutuh

Mencari hati yang terpendam 
Meredam

Embun berubah massa
Lebih berat dari biasanya
Titik demi titik mengetuk atap
Mengisyaratkan rindu akan menatap

Air turun membasahi tanah
Membekas menjadi curah

Anak anak mengganggap itu genangan
Sedangkan remaja itu adalah kenangan
Anak anak  sangat senang 
Merasa ia menang

Sedangkan remaja pecah
Serasa kalah.


Karunrung 23, September 2018

Jumat, 14 Juni 2019

berpetualang itu bentuk syukur

Berpetualang itu bentuk syukur

Masalah hidup kadang memasuki tahap amat, tapi manusia selalu saja menolak tamat. Ada-ada saja caranya untuk membangkitkan semangat, berpetualang contohnya. Lantas benarkah berpetualang itu  sebagai bentuk rasa syukur?
Mungkin saja mereka yang tak pernah merasakan terjalnya menuju puncak gunung, lelahnya menyebrangi lautan lepas, ataukah panasnya ditengah pematang sawah mungkin tak akan sepakat jika berpetualang adalah bentuk rasa syukur.
Mungkin mereka lebih memilih terkurung dikamarnya yang aman, bersenggama dengan gadgetnya, mengacak kolom komentar agar tenar, dan pasrah oleh kota yang menawarkan segala kemewahan. Memang lazim jika mereka terlampau bahagia dan merasa bersyukur diseputar wilayah itu.  Tapi rasa syukur yang kumaksud disini ialah rasa syukur kepada sang pencipta karena masih diberikannya waktu juga kekuatan untuk memandang dan mencumbu ciptaannya yang wah, yang tidak bisa saya ilustrasikan dengan kata-kata. Barangkali ada yang  bertanya apa gunanya menjebak diri di alam liar yang sewaktu-waktu bisa merenggut atmaku, padahal sudah ada zona aman yang mengihidangkan kehidupan layak, wifi, greentea dingin dan tempat yang glamor juga tempat bersua foto sebagai kebutuhan sosmed. Tapi secara tidak langsung alam bebas mengajarkan saya banyak hal kecil yang berdampak besar bagiku, salah satunya kesederhanaan. Diperjalanan terkadang makanan yang seharusnya dimakan satu orang saya makan bertiga, tidur bersempitan karena tenda yang pas-pasan dan masih banyak lagi. Seberes berpetualang Di tengah hiruk pikuk kota saya akhirnya sadar, kalau egoku kadang kurang ajar, kalau mengeluh bukan hal yang wajar, membuatku harus banyak tahu dan banyak belajar,  bahwa kunci menuju puncak adalah sabar. Petualangan adalah candu, rasa syukur adalah plusnya, karena dari langkah yang melelahkan  kita akan lebih memaknai kehidupan yang cuma sekali.

Jumat, 17 Mei 2019

Puisi cinta "malam, pagi dan kisah laranya"

Malam, pagi dan kisah laranya

Jarum jam terus memutar mengelilingi
Hari hari silih berganti
Apakah malam benar-benar sudi meninggalkan pagi?
Ataukah mungkin mereka sudah tak saling menanti?
Kuteguk lagi kopiku yang mulai menipis
Imajinasiku makin kritis
Apa mungkin janji sehidup sematinya sudah terkikis
Menjadikannya berakhir tragis
Dibalik perpisahan sudah pasti ada temu
Mungkin malam dan pagi pernah menjadi satu
Menjadi babu dari rindu yang menggebu
Tapi saling ragu karena rindu yang tak kunjung bertemu
Kini rembulan dan mentari tak lagi akur
Dingin dan hangatnya sudah gugur
Semuanya sudah hancur
Berpisah dan tersungkur



Selasa, 30 April 2019

Puisi cinta "rentetan luka"

Rentetan luka

Waktu demi waktu berlalu
Kau dan aku melewati hari melawan ragu
Menabur pupuk-pupuk cinta
Meski ujungnya memanen luka
Kita dua orang yang saling berusaha
Yang tak sadar mengukir salah
Kita dua insan yang saling menuntun
Yang lupa mengingatkan menjadikannya menyesatkan

Ini bukan salah siapa-siapa, mungkin akunya yang keras kepala
Terlalu tegang atas kebahagiaanmu
Terlalu riuh menghebohkan malam sepimu
Terlalu dingin menghangatkan pagimu

Kini lukaku tak kunjung pudar
Luka baru muncul menutupi luka lama
Aku tak berharap luka ini usai
Cuma berdoa agar aku menyanggupi semua


Rabu, 17 April 2019

Puisi mahasiswa "pemuda"

Pemuda

Berdiri melontarkan aspirasi
Lantang suara teriakkan negosiasi
Jarang dapat apresiasi
Kebanyakan cuma caci maki
Tak peduli terik membakar
Juga seusianya yang sibuk mabar
Seolah keseimbangan negeri ada ditangannya
Seolah dialah tokoh utamanya
Meski dia memang bukan  pahlawan
Meski dia tak harus kita agungkan
Tapi upayanya memanusiakan manusia yang tidak segan
Pembukti dialah pelanjut estafet perjuangan
Dialah pewaris jiwa-jiwa yang sudah lama tiada
Dialah pewaris semangat yang membara
Dialah pewaris keberanian pendahulunya
Dialah pemuda



Minggu, 14 April 2019

Apa tips dan persiapan sebelum mendaki atau camping bagi pemula?

Tips dan persiapan sebelum mendaki atau camping 


Sebelum melakukan pendakian atau camping ada beberapa tips dan trik yang harus diperhatikan untuk menjaga keselamatan dan kelancaran anda. Tips dan trik ini juga bermanfaat bagi anda pendaki pemula yang kurang tahu apa-apa yang harus dilakukan dan dibawa saat mendaki . semoga bermanfaat bagi anda.

1. Permantap fisik
Ada baiknya sebelum melakukan pendakian anda permantap fisik lebih dahulu dengan melakukan jogging pagi atau sore sebanyak 2 kali atau lebih sebelum melakukan pendakian. Gunanya adalah agar otot-otot tidak kaget saat melakukan pendakian dan membuat stamina kita lebih awet.

2. Siapkan peralatan mendaki
Dalam melakukan pendakian kita memerlukan beberapa peralatan agar membantu kita dalam proses perjalanan kita selama mendaki. Diantaranya adalah:
-carrier atau tas
Untuk menampung barang bawaan seperti pakaian, ramsung dll.
-Tenda atau bivak
Usahakan tenda atau bivak yang kamu bawa cukup atau lebih untuk kamu dan rombonganmu agar nyaman dan aman untuk tempat istirahat.
-flysheet
Flysheet singkat penjelasannya adalah pelindung tenda dari hujan atau embun yang berupa kain lebar. Flysheet juga bisa berguna sebagai tempat berlindung atau tenda darurat ketika diperjalan kita kehujanan, karna pemasangannya yang tidak lama
-jaket
Usahakan jaketmu dari toko outdoor atau jaket berbahan tebal dan tidak mudah basah karena cuaca digunung sangat dingin. Jaket ini juga berfungsi mengurangi resiko kita terkena hypotermia.
-sepatu atau sendal
Sepatu atau sendal juga disarankan dari toko outdoor, meskipun terbilang mahal tetapi sepatu atau sendal outdoor sangat membantu proses pendakian agar menjaga kaki dari benturan, akar atau batu yang licin dan masih banyak lagi.
-p3k atau med-kit
Ini juga penting agar pendakian bisa lebih safety karena saat di perjalanan bisa saja terjadi kecelakaan atau sakit yang tidak terduga. Apalagi kalau kamu atau rombonganmu memilki penyakit yang bisa kambuh setiap saat, sangat disarankan kamu membawa obat yang berkaitan dengan sakit itu sendiri.
-masker, kos kaki, dan kos tangan
Ketiganya adalah hal kecil yang biasa kita abaikan, padahal keduanya bisa sangat membantu proses pendakian. Disarankan membawa kos kaki dan kos tangan 2 atau lebih, satu dipakai untuk perjalanan yang satu lagi pada saat tidur untuk mengurangi rasa dingin. Masker atau buff berguna saat di perjalanan untuk melindungi kita dari debu, juga dapat mengurangi rasa dingin pada bagian kepala saat tidur.
-kompor portabel
Mungkin alat ini sudah tidak lazim bagi para pendaki atau petualang, kompor ini sangat praktis dan cocok untuk dibawah kemana. Jangan lupa gasnya, kondisikan saja jumlah gas dengan berapa lama waktu pendakian dan jumlah rombongan. Biasanya kalau pendakian 2 hari 1 malam dengan rombongan 4 orang jumlah gasnya minimal 2.
-alat masak,makan dan minum
Usahakan bawa alat dapur sesuai kebutuhan ramsung atau komsumsi. Nesting atau panci, wajan, spatula, sendok nasi, piring, botol air minum besar atau juga jergen, gelas, dan lain-lain. Sesuaikan juga jumlah alat dengan jumlah rombongan, usahakan minimalisir alat agar tidak menyulitkan saat proses pendakian.
-senter dan headlamp
Alat ini juga sangat membantu aktivitas dan proses pendakian saat malam hari tiba atau saat kita berada di area yang gelap.
-sleeping bag
Sleeping bag atau selimut kepompong adalah salah satu solusi ketika di gunung anda susah tidur karna cuaca yang sangat dingin. Bahannya yang tebal membantu kita memperoleh tidur yang berkualitas saat digunung, juga mengurangi resiko hypotermia yang dimana saat tubuh kita istirahat dan kurang bergerak memperbesar peluang hypotermia menyerang tubuh kita.
-jas hujan
Jas hujan salah satu alat penting yang perlu dibawa saat mendaki karena seperti yang kita ketahui daerah gunung rentan dengan hujan
-matras
Berguna sebagai pengalas atau pelapis disaat kita tidur atau duduk santai ditenda maupun diperjalanan
-pakaian
Bawalah pakaian secukupnya, sesuaikan berapa lama waktu dan jarak tempuh jalur pendakian
-korek
Korek juga penting, selain untuk pendaki yang merokok juga dapat digunakan untuk membuat api unggun dan lain-lain.
-ramsung atau komsumsi
Usahakan bawa makanan dan minuman yang bisa membuat energi bertambah dan tahan lama. Yang disarankan diantaranya adalah beras, tempe, telur, sayur-sayuran, mie instan, nugget, roti, biskuit, kopi, teh, minuman bubuk rasa(marimas,nutrisari, dll), susu, cemilan dan lain-lain. Minimalisir cemilan seperti snack karena ukurannya yang terbilang besar dan tidak terlalu berpengaruh buat stamina. Coklat atau gula merah bisa jadi pengganti cemilan yang lebih bermanfaat karena terbukti bisa membantu stamina lebih tahan lama.

3. Minimalisir barang bawaan
Ini sangat penting untung kenyamanan saat pendakian, bawalah barang yang perlu saja.

4. Izin ke orang tua atau keluarga
Restu orang tua atau keluarga sangat penting untuk keselamatan kita dan untuk mengantisipasi hal yang tidak diingankan saat perjalanan.

5. Berdoa
Berdoa saat sebelum dan sesudah perjalanan dapat membantu kita agar terhindar dari marabahaya. 

6. Tips saat proses pendakian
-jangan malu berhenti saat capek
Kebanyakan orang saat mendaki gengsi berhenti saat capek, padahal akibatnya bisa sangat fatal. Jika kamu merasa sudah tidak sanggup, bilanglah ketemanmu yang lain agar berhenti dan saat sudah pulih barulah lanjut.
-mengingat Tuhan
Usahakan zikir mengingat tuhan dan solat bagi umat muslim saat proses pendakian. Bahkan saat tidak mendakipun itu wajib, agar kita bisa diberi keselamatan setiap saatnya .
-teknik pernapasan
Teknik pernapasan saat mendaki juga penting agar kita mudah ngos-ngosan. Kurang lebih caranya adalah hirup udara sebanyak-banyaknya melalui hidung kemudian hembuskan pelan-pelan lewat hidung atau mulut. Inti dari teknik ini adalah hirup udara melalui hidung, bukan mulut.
-perhatikan pesan pemandu/warga sekitar
Sebelum anda melakukan pendakian pasti anda akan melewati tempat registrasi dan bertemu pemandu atau warga sekitar. Dengarkan dan ingat baik-baik pesan atau larangan pemandu tersebut, jangan sampai kamu menyepelekan hal tersebut kemudian berakibat fatal bagimu.
-jangan rusak alam
Usahakan jangan rusak dan ambil apa yang menjadi bagian dari gunung, seperti edelweis dan lain-lain. Jangan juga lupa bawah kantong untuk sampah anda.
-hiraukan cerita mistis
Gunung memang terkenal dengan cerita mistisnya, tapi saran saya jangan terlalu banyak dikomsumsi atau bahkan tidak perlu karena dapat menganggu proses pendakian.
Semua tips diatas berdasarkan dari pengalaman pribadi saya, jika ada kesalahan atau tambahan silahkan komentar dibawah. Semoga bermanfaat!!!




Sabtu, 13 April 2019

Puisi politik "renovasi diri"

Renovasi diri

Beras menjulang tinggi
Harga bbm makin menjadi-jadi
Utang negara yang hilang kendali
Atas kuasa siapa semua ini terjadi?

Apa mungkin para penguasa disana?

Mahasiswa sibuk turun kejalan
Masyarakat giat mengungkit soal keadilan
Apakah itu sudah efisien?

Mestinya kita instropeksi diri
Bukankah dia terpilih karna kita sendiri
Harusnya kita sadar diri
Berhenti menjual diri
Demi dia agar terpilih

Harusnya kita tidak murahan
Harusnya kita tidak gampangan
Agar suara tidak mudah disetubuhi
Dan hasilnya akan suci
Agar calon pemerintah tak lagi perbaiki modal, tapi perbaiki visi dan misi
Sibuk memperbaiki negeri
Bukan sibuk sogok sana-sini

Kamis, 11 April 2019

Puisi Cinta "aku bohong kalau aku jujur"

Puisi cinta lucu

Aku bohong kalau aku jujur

Dekapmu tak lagi membuatku lebur
Ternyata tidak jujur
Nyatanya aku gugur

Sandarmu tak lagi membuatku makmur
Ternyata tidak jujur
Nyatanya aku hancur

Suaramu tak lagi membuatku akur
Ternyata tidak jujur
Nyatanya aku tersungkur

Bukan maksudku menyelinap diantara selangkangan kebohongan
Aku hanya ingin terlihat aman
Walau sebenarnya aku larut dalam kehampaan

Maaf atas rasa yang tak berhasil ku kubur
Maaf atas raga yang tak sanggup untuk kabur
Maaf aku bohong kalau aku jujur

Puisi tentang petualang "petualang amatir"

Petualang amatir

Sang petualangan amatir
Yah itulah aku
Sedangkan kau adalah kompas
Yang ingin kuajak menghabiskan waktu bersama
Mengitari celah hutan dan rintangan

Akulah petualang yang manja
Yang takut tersesat tanpa bimbinganmu
Aku adalah petualangan yang mati hipotermia
Tanpa ragamu menyelimutiku

Sayangya, ditengah jalan kau memilih berpisah
Kau meninggalkan aku jauh di depan sana
Kukira karna kau kuat menyelesaikan petualangan ini sendiri
Nyatanya kau menemukan petualangan baru
Yang menjanjikanmu ke puncak kebahagiaan

Andai saja kau mau menoleh sebentar saja
Ada sesuatu yang ingin katakan
Andai saja kau mau sedikit sabar
Ada sesuatu yang ingin buktikan
Sesungguhnya aku lebih suka membuktikan
Daripada mengatakan.

Senin, 08 April 2019

Puisi cinta "sadar"

Sadar

Malam makin larut
Dingin kembali membalut
Dan aku hanya bisa tertunduk
Sembunyi dibalik selimut
Sanggupkah kita menerima perpisahan ini?
Teringat kita yang pernah sedekat nadi
Malu menyapa hingga kini
Karena gengsi yang menjadi-jadi
Benarkah langkah yang kita putuskan?
Tentang kita yang pernah sejalan
Saling menopang sampai tujuan
Terhenti oleh ego yang menyesatkan
Atau mungkin kita butuh waktu sendiri?
Sampai kita sadar diri
Masa depan tak bisa digapai sendiri
Dan rintangan bukan cuma ini

Memang kita harus mengingat kembali
Tentang dulu yang kita sepakati
Saling mencintai tanpa henti
Saling mendoakan dan mengamini

Jumat, 05 April 2019

Puisi cinta "matahari"

Matahari

Mencintaimu seperti matahari
Menyinari sepenuh hati
Tatkala fajar menelanmu
Yang berguna hanya lampu
Tapi tenang
Aku lebih memilih tidur sepanjang malam
Sambil menantimu di ufuk timur
Aku seolah petani
Yang berharap kau terus bersinar
Agar cintaku tumbuh subur
Agar cintaku tidak gugur
Aku adalah rintik hujan yang menangis
Dikala kau sirna ditutupi mendung
Yang tersisa hanya pemuda gondrong berwajah murung
Berteduh terkurung didepan warung
Dan aku adalah barat yang setia menunggumu
Saat timur tega meneggelamkanmu

Rabu, 03 April 2019

Puisi alam "kisah kasih pejalan"

Kisah kasih pejalan

Langit mendung menyapa pagi
Dua insan tanpa sadar memadu kasih
Saling mengisi dengan berbagai cara
Tak sengaja mengukir luka karna tak saling sapa
Langit kembali cerah
Langkah berantakan menuju satu arah
Tujuannya sama, menuju puncak kebahagiaan tiada tara
Tersesat karena ekspektasi yang tak mampu diimbangi
Menjadikannya kehilangan keseimbangan
Dan tak tahu kemana harus pulang
Kini pandangannya pun buta
Kisah ini telah tamat, tanpa tahu atas kuasa siapa
Dia telah bahagia dengan pilihannya
Terpaksa berjalan dalam kebingungan

Puisi cinta "matahari"

Matahari

Aku mencintaimu seperti matahari
Menyinari sepenuh hati
Tatkala fajar menelanmu
Yang berguna hanya lampu
Tapi tenang
Aku lebih memilih tidur sepanjang malam
Sambil menantimu di ufuk timur
Aku seolah petani
Yang berharap kau terus bersinar
Agar cintaku tumbuh subur
Agar cintaku tidak gugur
Aku adalah rintik hujan yang menangis
Dikala kau sirna ditutupi mendung
Yang tersisa hanya pemuda gondrong berwajah murung
Berteduh terkurung didepan warung
Dan aku adalah barat yang setia menunggumu
Saat timur tega meneggelamkanmu

Minggu, 24 Maret 2019

Puisi alam "isyarat alam"

Isyarat alam

Langkahku tak bisa redam
Masih jauh dari kata tenggang
Penasaranku tak segan-segan
Naluri terus memaksa berjalan
Keindahannya tak henti menisyaratkanku
Katanya kotaku terlalu pengap
Udara segarku mati berkecamuk asap-asap
Kepalsuan hidup yang kukomsumsi memasuki tahap amat
Sesungguhnya...
Lelah hanya batu loncatan menuju puncak kepuasan
Dinginnya malam hanya proses menuju sejuknya pagi
Dan nyatanya
Makanan terlezat adalah yang disajikan sepiring berdua
Kesederhanaan adalah kemewehan sesunggunya

Karna setiap langkah adalah pelajaran
Dan menjadi dewasa adalah bonusnya




Rabu, 20 Maret 2019

Puisi cinta "akankah awet"

Akankah awet?

Disela bincang disudut kantin
Entah angin apa yang merasuki ku
Perasaanku campur aduk
Seketika tubuhku dingin
Resahku menjadi-jadi

Tiba-tiba kau datang
Tatkala mataku dan matamu berpapasan
Kau seraya tersenyum 
Mungkin karna canda teman disebelahmu

Kukira cinta pandang pertama hanya mitos belaka
Siapa sangka, aku jadi korban
Aku mencubit pahaku
Memastikan kalau ini bukan mimpi
Atau mungkin kau yang selama ini ku impi-impikan

Muncul pertanyaan mengganjal
Apakah cinta yang cepat akan bertahan lama?
Lantas mengapa cintaku yang lama membinasakanku
perjuanganku berujung buntu
Yang ada hanya ribuan penyesalan
Membuatku harus berhati-hati melangkah
Karna puncaknya tak selalu sesuai ekspektasi

Kamis, 14 Maret 2019

Puisi politik "hanya pijakan"

Hanya pijakan

Pemilu sebentar lagi
Sogokan sana-sini
Tak peduli caranya tidak baik
Kemenangan lah yang ingin diraih
Menebar benih janji
Demi sebuah simpati
Katanya rakyat nomor satu
Nyatanya golongan dulu
Katanya rakyat tidak boleh miskin
Nyatanya kita tidak penting
Dan nyatanya rakyat hanya pijakan
Menuju kursi untuk bersenang-senang

Puisi cinta " istirahatlah kasih "

Istirahatlah kasih

Gelap makin redup
Tiada lagi bising mesin
Hanya kicau burung disela sepi
Hanya angin yang menembus pori-pori
Sudah harusnya kau terlelap
Ada esok yang harus dijalani
Ada janji yang harus ditepati
Ada rindu yang harus dituntasi
Makasih untuk hari ini
Sudah menyayangi tanpa henti
Aku mencintaimu sampai kata nanti tiada lagi

Minggu, 17 Februari 2019

Puisi cinta yang sabar

Cinta yang sabar

Ada ingin dalam setiap tatap
Banyak makna tersirat setiap kedip
Pasrah diri hanyut karna senyummu
Dekapmu membuat pilu tak lagi berarti

Sabar semakin merapuhkan
Memilikimu memang rencana terbesar
Tapi rasa tak harus terungkap terburu-buru
Sebab ibarat tidur
Tidur yang nyaman adalah tidur karna ketiduran
Dan aku ingin mencintaimu pelan-pelan

Jumat, 15 Februari 2019

Puisi cinta lucu sepasang sendal

Puisi cinta

Sepasang sendal

Seperti sepasang sendal
Tak sejalan
Tapi satu tujuan
Seperti sepasang sendal
Berbeda bentuk
Tapi tetap berbalut
Seperti sepasang sendal
Saling melengkapi
Bukan saling mencederai
Persoalan bukan untuk dipersoalkan
Sebab masalah ibarat pertandingan
Dan kita adalah rekan
Tujuan kita ialah menang
Karna aku adalah sendal kiri
Kau adalah sendal kanan
Jika tidak cocok
Berarti kau adalah sendal kiri





Selasa, 12 Februari 2019

Puisi suara mahasiswa

Puisi mahasiswa

Suara mahasiswa

Pemerintah yang acuh
Sistem yang gaduh
Menguntungkan hanya separuh
Tak harusnya kita patuh

Karna Ketidakadilan kami berdiri
Lantangkan suara teriakkan aspirasi
Kiranya dapat apresiasi
Malah dapat caci maki

Dianggap meresahkan
Dianggap memacetkan
Padahal cuma sila kelima yang kami ingatkan
Padahal keadilan menyeluruh yang kami inginkan.

Jumat, 01 Februari 2019

Puisi politik lucu

 rumit

Percuma berdemokrasi menyatakan rasa
Kalau kau masih saja apatis keras kepala
Percuma aku berkapitalisme menabung benih rasa
Kalau kau masih sibuk mereklamasi lautan asmara
Apa mungkin kau sedang berkoalisi dengan setan, agar aku tidak punya keturunan?
Sudahlah, percuma berkomitmen kita terjalin
Kalau tuntutmu aku harus berevolusi jadi orang korea.
Ah sudahlah, kau sama saja dengan politik negeri ini, rumit !!!

Rabu, 30 Januari 2019

Puisi alam petualangan "Toraja, kau, dan ingin"



                              
Pagi,20januari2019                       
Lolai (totombi) negri diatas awan, toraja.


Toraja, kau dan ingin

ketika aku hanyut tercebur dalam sejuk suasananya
Dingin tak lagi buatku mengeluh
Menghangatkan perasaan yang tadinya keruh
Toraja tetaplah begini, aku ingin anakku melihat elokmu sendiri

Dan teruntuk kau yang bernaung dihati, yang kuharap jadi bagian dari keluargaku nanti
Ingin rasanya menikmati senyummu sekali lagi 
yang anggun ibarat toraja ini,
membuatku abai akan persoalan hidup yang rumit

Ingin rasanya menyeduh kopi toraja berdua denganmu,
agar kita paham kalau pahit hidup ini bukan jalan buntu

Mungkin aku ingin kesini sekali lagi , tapi kalau sendiri kayaknya tidak mungkin. harusnya sih kamu tau , aku mahkluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa kamu.

Tak henti aku melantunkan namamu disela doa minta jodohku kepadanya
Agar kita yang belum terjalin tidak seperti angin, karna kau adalah destinasi yang sudah kuputuskan untuk mengahabiskan sisa hidupku.