Isyarat alam
Langkahku tak bisa redam
Masih jauh dari kata tenggang
Penasaranku tak segan-segan
Naluri terus memaksa berjalan
Keindahannya tak henti menisyaratkanku
Katanya kotaku terlalu pengap
Udara segarku mati berkecamuk asap-asap
Kepalsuan hidup yang kukomsumsi memasuki tahap amat
Sesungguhnya...
Lelah hanya batu loncatan menuju puncak kepuasan
Dinginnya malam hanya proses menuju sejuknya pagi
Dan nyatanya
Makanan terlezat adalah yang disajikan sepiring berdua
Kesederhanaan adalah kemewehan sesunggunya
Karna setiap langkah adalah pelajaran
Dan menjadi dewasa adalah bonusnya
Minggu, 24 Maret 2019
Rabu, 20 Maret 2019
Puisi cinta "akankah awet"
Akankah awet?
Disela bincang disudut kantin
Entah angin apa yang merasuki ku
Perasaanku campur aduk
Seketika tubuhku dingin
Resahku menjadi-jadi
Entah angin apa yang merasuki ku
Perasaanku campur aduk
Seketika tubuhku dingin
Resahku menjadi-jadi
Tiba-tiba kau datang
Tatkala mataku dan matamu berpapasan
Kau seraya tersenyum
Tatkala mataku dan matamu berpapasan
Kau seraya tersenyum
Mungkin karna canda teman disebelahmu
Kukira cinta pandang pertama hanya mitos belaka
Siapa sangka, aku jadi korban
Aku mencubit pahaku
Memastikan kalau ini bukan mimpi
Atau mungkin kau yang selama ini ku impi-impikan
Memastikan kalau ini bukan mimpi
Atau mungkin kau yang selama ini ku impi-impikan
Muncul pertanyaan mengganjal
Apakah cinta yang cepat akan bertahan lama?
Lantas mengapa cintaku yang lama membinasakanku
Apakah cinta yang cepat akan bertahan lama?
Lantas mengapa cintaku yang lama membinasakanku
perjuanganku berujung buntu
Yang ada hanya ribuan penyesalan
Membuatku harus berhati-hati melangkah
Karna puncaknya tak selalu sesuai ekspektasi
Yang ada hanya ribuan penyesalan
Membuatku harus berhati-hati melangkah
Karna puncaknya tak selalu sesuai ekspektasi
Kamis, 14 Maret 2019
Puisi politik "hanya pijakan"
Hanya pijakan
Pemilu sebentar lagi
Sogokan sana-sini
Tak peduli caranya tidak baik
Kemenangan lah yang ingin diraih
Menebar benih janji
Demi sebuah simpati
Katanya rakyat nomor satu
Nyatanya golongan dulu
Katanya rakyat tidak boleh miskin
Nyatanya kita tidak penting
Dan nyatanya rakyat hanya pijakan
Menuju kursi untuk bersenang-senang
Pemilu sebentar lagi
Sogokan sana-sini
Tak peduli caranya tidak baik
Kemenangan lah yang ingin diraih
Menebar benih janji
Demi sebuah simpati
Katanya rakyat nomor satu
Nyatanya golongan dulu
Katanya rakyat tidak boleh miskin
Nyatanya kita tidak penting
Dan nyatanya rakyat hanya pijakan
Menuju kursi untuk bersenang-senang
Puisi cinta " istirahatlah kasih "
Istirahatlah kasih
Gelap makin redup
Tiada lagi bising mesin
Hanya kicau burung disela sepi
Hanya angin yang menembus pori-pori
Sudah harusnya kau terlelap
Ada esok yang harus dijalani
Ada janji yang harus ditepati
Ada rindu yang harus dituntasi
Makasih untuk hari ini
Sudah menyayangi tanpa henti
Aku mencintaimu sampai kata nanti tiada lagi
Gelap makin redup
Tiada lagi bising mesin
Hanya kicau burung disela sepi
Hanya angin yang menembus pori-pori
Sudah harusnya kau terlelap
Ada esok yang harus dijalani
Ada janji yang harus ditepati
Ada rindu yang harus dituntasi
Makasih untuk hari ini
Sudah menyayangi tanpa henti
Aku mencintaimu sampai kata nanti tiada lagi
Langganan:
Komentar (Atom)
-
Dibalik pandemi ada bumi yang pulih “Cepat sembuh bumiku”. Kurang lebih begitulah story juga postingan segelintir ora...
-
Masa muda masa meramu memilah-milah memilih -milih tangan memegang ini lidah mengecap itu tubuh berhasil mengeja hal baru seluruh yang abu-a...