Sabtu, 17 Agustus 2019

 "DUNGU"

dipekat malam aku menepi
mencari tempat yang paling gelap
dan merenung

sengaja untuk memikirkanmu
mencari sesuatu
memilahnya dengan jitu
dari hal yang haru
hingga yang berubah menjadi hura

lalu tak sengaja terlelap
dan
kembali tersadar

pagi ini
matahari sedang percaya diri
cakrawala menyombongkan diri
menunjukkan jati
sedangkan jiwaku kembali
pada nurani

terpejam lalu gelap
berharap pikiranku segera lenyap
dan membuka nyatanya semua hilang
setelah hamparan samudra awan
menghiasi dan canda para kawan
aku kembali mengenggam cawan
menikmati walau itu sisa semalam

Aku kira kau tak akan pergi
sebab kau selalu berjanji
aku kira kau akan menetap
sebab kau selalu meyakinkan dengan tatap


Biring Panting, 28 Juli 2019 
oleh hahamiddd

Kamis, 08 Agustus 2019

"libur,bencana yang terencana"

Libur, bencana yang terencana

Kampus 2 uin alauddin

Malamku tak lagi bergelimang bintang
Sebab kelap-kelipnya menjelma kekhawatiran
Masihkah hadirku menjadi solusi saat kau hampir mati diujung penyayatan?
Atau mungkin tingkahku tak lagi menjadi alasan senyum penuh kiasan?
Sungguh hidupku penuh manipulasi
Berkata semua baik-baik saja disini
Sedangkan tak disisi hanyalah lumpuh tak berdiri
Padahal kau sudah permisi
Berjanji kembali dikemudian hari
Kini sabar dan rinduku tak henti berembuk
Menentukan penguasa lorong-lorong hati yang sedari lama sepi
Atas kuasa siapa semuanya memburuk
Jika membunuh orang adalah melanggar
Mengapa jarak tak pernah dihukum?
Mengapa waktu tak pernah kena ganjaran?
Sedangkan mereka telah membantai secara berencana
Atas dua manusia yang sedang memadu warna
Pisah karena musim libur tak kunjung reda
Kuharap doaku akurat kesana
Kutunggu kau dilembaran akhir buku penantian
Menulis ulang harapan yang sudah usang
Ditelan habis libur tak bertepian

Rabu, 07 Agustus 2019

Lika liku seru menuju puncak bawakaraeng


Lika liku seru menuju puncak bawakaraeng

Desa lembanna

   Kamis jam 10 malam aku dan 7 teman lainnya akhirnya sah untuk bertolak ke malino tempat gunung bawakaraeng berdomisili. Waktu yang sangat molor dari kesepakatan rapat kecil-kecilan sehari sebelumnya yang harusnya sudah otw dari jam 3 siang namun lantaran alat belum lengkap kami harus keliling untuk melengkapinya,  ya namanya juga pendaki musiman. Tapi kerennya tak satupun dari kami merasa bersalah ataupun menyalahkan, haha bagaimana tidak? Telat telah lama menjelma jadi tradisi disetiap derap langkah petualangan kami sebelumnya atau mungkin juga bisa jadi ini turunan sifat waktu sekolah dulu.
   Setelah kurang lebih 2 jam kami bergelut dengan aspal akhirnya kami sampai di sebuah desa bernama biring panting, di sebuah rumah tingkat dua yang dinginnya masuk tahap amat sekaligus kediaman salah satu teman kampus saya yang bernama nuge. Ohiya disini juga jadi tempat beristirahat kami selama satu malam sebelum esok melakukan pendakian. Dengan duduk melingkar kami hangat dalam bincang ringan ditengah dinginnya malino, sembari tuan rumah menyiapkan makanan. Nuge adalah contoh manusia yang sangat sadar diri, waktu, posisi, bagaimana tidak? Dia sangat paham dengan kami yang mudah keroncongan apabila tersenggol angin dingin meskipun minim. Namun yang disayangkan kali ini tuan rumah tidak mengindahkan ajakan kami untuk muncak bersama lantaran ada tugas yang harus diselasaikan. Selepas menyantap makanan dari tuan rumah kamipun akhirnya tumbang dan merebahkan diri, ya mungkin karena terlalu lahap hingga kekenyangan.
‌   Pagi datang pada waktunya, kamipun bergegas merapikan tempat tidur sekaligus packing ulang alat yang ingin dibawah untuk bertempur dengan gunung bawakaraeng yang katanya memiliki segudang rintangan yang melelahkan. Sesudah itu kami menyantap lagi makanan yang sedari tadi sudah disiapkan oleh tuan rumah. Berselang beberapa menit kamipun pamit menuju desa terakhir sekaligus tempat start para pendaki yang bernama desa lembanna. Sesampai di desa terakhir kami memarkir motor disalah satu rumah warga sembari menunggu waktu sholat jumat. "Yang ganteng pasti sholat jumat", kata yang selalu menjadi penyemangat langkah kami dalam melaksanakan ibadah sholat jumat. Seberes sholat, kami pun benar-benar memulai petualangan ini, yang kami mulai dengan berdoa agar kami diberi lindungan dalam setiap derap langkah kami. Perjalananku kali ini beranggotakan 8 orang, yang diantaranya ada aing, sarul, fajri, fajar, noval syukur, agus, dan saya sendiri.
   Diawal perjalanan kami asik bercerita ria, tak jarang juga saling mengolok satu sama lain. Dipertengahan menuju ke pos 1 kami memutuskan duduk sejenak sembari meminum air yang sudah diisi di rumah warga tadi. Tak ingin berlama-lama kamipun berdiri lagi dan memulai kembali ayunan kaki yang menolak kendor. Suara binatang-binatang disekitar mulai menunjukkan pesona suaranya yang seolah menyambut kedatangan kami. Berselang beberapa jam, kami akhirnya sampai di pos 2. Kami sepakat untuk mampir sejenak untuk mengisi botol air yang sedari tadi menipis sebagai amunisi melanjutkan perjalanan. Di pos ini terdapat sungai kecil mengalir yang biasa disinggahi oleh pendaki lain maupun warga lokal, namun sayangnya kali ini saya dan aing yang bertugas mengambil air harus berjalan lebih keatas dikarenakan alirannya agak surut. Selepas itu kamipun melanjutkan lagi perjalanan yang ditemani pancaran surya yang menyengat sisi-sisi kulit. Medan yang datar nan mudah perlahan menghilang, kontur jalur yang berubah-ubah semakin menguras tenaga. Seolah gunung sedang berkata "selamat datang, selamat menikmati rintangan".  Cerita juga candaan mulai berkurang, nampak wajah-wajah kusam lesuh dari kami yang menggambarkan keletihan yang tak biasa. Napas yang tak beraturan diiringi alunan detak jantung yang deras memaksa kami untuk beberapa kali duduk istirahat.
   Langkah demi langkah kita tapaki akhirnya saya tiba di pos 4 dan untuk sekian kalinya kami istirahat lagi. Saling menatap kemudian menertawai satu sama lain, itulah yang terjadi saat itu. Kami seolah-olah sedang tidak ada apa-apa padahal otot badan terasa menjerit minta ampun. Tak jarang juga diselanya kami sisipkan kata-kata untuk saling menyemangati. Sembari berbincang kami meneguk air yang sudah dicampur dengan bubuk rasa juga memakan roti coklat kemasan lima ribuan untuk menumbuhkan kembali stamina yang sedari tadi menipis. Setelah menghanguskan sebatang rokok, kami lanjut berdiri lalu kembali memulai langkah kecil menyambung rentetan rintangan. Dengan perjuangan penuh, kami lalu tiba di padang sabana yang membentang. Tempat pos 5 bersemayam. Disini kami resmi beristirahat full semalaman untuk memulihkan tenaga yang sudah lowbat. Kami membagi tugas, aku dan fajar bertugas mengambil air yang lokasinya
cukup jauh nan melelahkan sedangkan sisanya bekerja mendirikan tenda dan mengikat hammock disisinya.
   Tepat pukul 05.30 sang surya berwarna jingga dengan malu-malu mengintip dari kejauhan. Kami silih berganti meneguk kopi yang baru beberapa detik lalu selesai dibuat ditengah-tengah tenda yang terpatok kuat disela-sela hutan sabana sembari menyaksikan sore yang sebentar lagi berganti tugas dengan malam.
 ‌  Setalah langit hitam benar-benar sah menyelimuti, kami lalu mengganti dan mengeluarkan alat perang yang baru yaitu jaket outdoor tebal dan celana panjang untuk melawan jahatnya suhu dingin pegunungan. Beberapa dari kami pun mulai menunjukkan aksi dalam mengolah ransum yang sudah kami sediakan sebelumnya. Kami berkaloborasi seperti sebuah keluarga bahagia yang mencoba bertahan hidup ditengah banyaknya cobaan. Bedanya, keluarga kali ini tanpa ibu. Hahah iyalah orang kita semua batangan alias laki-laki. Setelah berlama-lama mengotak-atik air, beras, mie berkuah, wortel dan kentang, makananpun sudah siap dihidangkan. Dengan taburan tempe kecap dipotong kecil-kecil yang sudah dibuat oleh ibu fajri sehari sebelum ke malino kamipun dengan sangat bergairah menyantapnya tanpa tersisa sebutir atau setespun. Makan malam kali ini benar-benar berkesan meskipun rasanya sedikit asam, atau mungkin tetesan keringat yang sudah bercampuran. "Hahaha itu urusan perut, nanti didalam dia yang atur" kata seorang dari kami, memecah hening yang makin menjadi. 
   Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh waktu indonesia bagian timur, angin dingin makin tega menyusup ke kulit tipis yang menembus tulang ditengah panasnya bincang rombongan kami. Bincang jenaka, berbalas-balasan mencibir, saling bergantian menyeruput kopi yang masih panas jadi teman menikmati malam yang sangat asik. Saya yang berniat keluar buang air seketika dibuat terkesima oleh hamparan bintang yang tampak lebih dekat berserakan diatas langit. Sayapun langsung mengajak yang lain untuk menyaksikannya. Malam ini benar-benar paket komplit, membuat pegal sekujur tubuh seketika lenyap. Tak lama setelah itu kami lanjut tidur untuk memulihkan kondisi yang sudah berjuang maksimal seharian.
   Pagi-pagi buta, kami lalu bergegas menyiapkan makanan pagi sembari menikmati kopi. Sesuai persetujuan semalam, kami akan melanjutkan perjalanan pagi jam 07.00. Setelah menyantap makanan dan menghisap berbatang-batang rokok, kami lalu mempacking ulang barang dan membongkar tenda. Sayangnya, kami lagi-lagi molor. Semuanya baru beres jam 8 lewat. Kami lalu memulai lagi langkah dengan semangat baru. Kali ini jalur semakin rumit dengan strukturnya yang makin curam. Tapi mengingat puncak yang masih jauh sembunyi didepan sana memaksa kami harus berjuang lebih keras dari sebelumnya.

Pos 7 bawakaraeng
Pos 7 bawakaraeng

   Seberes melampaui beberapa medan kami lalu sampai di pos 7 dengan penuh terengah-engah. Parahnya, perbekalan air sudah habis. Mengingat mata air hanya ada di pos selanjutnya, kami dengan sisa tenaga menyambungkan langkah. Pos selanjutnya memiliki jarak yang terbilang jauh, sehingga kami beberapa kali terpaksa terhenti. Kami berjalan berjuang melawan diri yang sudah melampaui batasnya yang mengharuskan kami menyemangati diri sendiri. Mengingat tujuan kita saat ini adalah puncak, bukan waktu yang tepat untuk memanjakan otot-otot yang sering bermalasan saat dikota. Setelah memakan durasi waktu waktu yang lama menyusuri hutan kamipun akhirnya sampai ke pos 8. Tempat mata air bermukim, yang biasa disebut telaga bidadari. Fajri yang sudah kehausan sedari tadi dengan sigap nan lahap menengguk sebotol air yang diambilnya langsung dari sungai tersebut. Hahaha tampannya seolah ia yang memiliki sungai tersebut sepenuhnya.
Bahkan aku, fajar, agus, noval dan syukur tak peduli dengan suhu yang sudah menggigil sedari tadi. Kami menceburkan kepala sembari sampoan dan sikat gigi meskipun yang terjadi isi kepala serasa membeku. "Ambil air disitu saja, itu air cuci kaki bidadari " canda fajar sambil menunjuk kearah 2 wanita yang sedang bersih-bersih. Kami sontak tertawa terbahak, dan fajar lagi-lagi berhasil mebuat sepi jadi riuh. Saat itu juga julukannya bukan lagi raja nasi, tapi juga raja gombal haha. Karna tak ingin waktu terbuang banyak, kami dengan sigap memulai lagi mengolah persediaan makanan yang akan kami jadi sebagai bahan bakar stamina yang sedari tadi sudah hampir mogok. Sekitaran 30 menit kamipun berberes lalu bergegas menggeruskan langkah melanjutkan perjalanan.



Lajur menuju pos 9 ini termasuk lajur yang sangat curam, memaksa kami harus menaikkan level hati-hati dari yang sebelum-sebelumnya. Ditambah lagi ada jalur yang  bercabang dan mengharuskan kami ekstra jeli dalam menentukan kemana langkah harus berpijak. Dengan napas yang lagi-lagi tersengal-sengal luar biasa kamipun akhirnya sampai ke pos 9. Setelah beberapa menit berembuk, kami memutuskan membagi 2 kelompok. Setelah mengetahui informasi dari salah satu rombongan yang baru turun dari puncak mengatakan kalau di puncak airnya sedang keruh, Aing dan Agus ditugaskan untuk mengisi air yang tempatnya tak jauh dari letak pos 9 lalu sisanya lanjut menuju pos 10 sekaligus pos yang menjadi puncak gunung bawakaraeng. Kini langkah makin semangat bergegas menyusuri hutan-hutan. Puncak yang sudah didepan didepan mata seolah menjadi pelumas bagi tubuh kami yang sudah minta ampun. Meski kami harus beberapa kali lagi berhenti untuk istirahat sejenak dikarenakan jalur yang masih rumit dan jaraknya juga masih teramat jauh. Bunga edelweiss yang hinggap disekitaran jalur menjadi bumbu penyedap dalam perjalanan kami. Ia tumbuh perkasa nan cantik disela-sela rerumputan hijau. Edelweiss yang menari tertiup angin seolah menyemangati dengan bahasa isyarat.
Bunga abadi edelweiss
   Setelah berlama-lama kamipun akhirnya tiba di puncak. Tertampil wajah-wajah kepuasan yang tadinya letih setengah mati. Mata yang tak ingin kehilangan satu detik momenpun ikut bersyukur. Otot-otot tubuh yang tadinya meringis sekarang menjadi pulih seketika. Tak lama berdiam menikmati, Aing dan Agus pun tiba, kami langsung mencari tempat yang cocok untuk berkemah lagi semalaman setelah itu esok harinya kita pulang.
Puncak bawakaraeng

Setelah tenda berdiri kokoh, kami lalu membuat kopi panas untuk menjadi penghias sore dingin ini. Matahari jingga kini tak lagi malu-malu memperlihatkan pesonanya dikelilingi awan lembut yang tampak lebih dekat dari biasanya. Sang jingga perlahan meninggalkan jingganya. Menandakan dia akan pergi. Tatkala gelap benar-benar resmi menyelimuti malam. Bintang-bintang tampak lebih percaya diri menunjukkan sinarnya. Malam kini ditemani angin dingin yang menusuk sekujur tubuh tanpa permisi. Siang esoknya kami berberes lalu bergegas untuk lanjut pulang.
Perjalanan kali ini mengajarkan banyak hal kecil yang berdampak besar bagi saya. Dimana saya menemukan saudara yang tak sedarah. Bahwa apa yang kita perjuangkan itulah yang kita dapat. Dan bukan soal puncaklah yang aku banggakan, tapi prosesi menuju sanalah yang tak akan bisa terlupa.
Puncak bawakaraeng

Puncak bawakaraeng

Tugu puncak bawakaraeng