Kamis, 30 April 2020

esai "dibalik pandemi ada bumi yang pulih"




Dibalik pandemi ada bumi yang pulih


   “Cepat sembuh bumiku”. Kurang lebih begitulah story juga postingan segelintir orang dalam merespon pandemi covid-19 ini. Hal yang justru berbanding terbalik menurut perspektif pribadi saya. Siapa yang sebenarnya sakit? Bumi atau manusianya? Atau mungkin kita sedang keliru saja dalam menanggapi pandemi ini karena dirundung kepanikan, dan semoga bukan asal berbuat agar trending atau agar memperoleh pujian responsive dari viewers juga followers.
   Jika berkaca pada media informatif yang menafsirkan kondisi bumi saat ini, yang dimana berkurangnya polusi dan elusi yang diakibatkan pabrik industri juga beberapa kendaraan yang tidak ramah lingkungan. Lapisan ozon yang perlahan pulih juga satwa liar hutan dan laut yang kembali lompat girang kesana kemari karena pengurangan aktivitas pengeboman dan penebangan liar. Dan masih banyak hal positif lain yang dirasakan bumi. Seolah bumi sedang bernapas lega dari lelah menahan sakit akibat ulah manusia yang membenarkan segala cara atas nama kemakmuran.
    Dari beberapa informasi ini saya mengambil kesimpulan, kalau masa pandemi ini kitalah manusia saat ini yang sedang sakit atau terkena dampak negatif dari pandemi ini, sedangkan bumi berada pada masa proses pemulihan atau lebih tepatnya terkena dampak positif dari pandemi covid-19 ini. Bagaimana tidak? Manusia kini dikelilingi rasa takut karena virus yang mematikan ini. Silaturahmi kaum kapitalis yang tak henti menindas kaum buruh seolah menemui jalan buntu untuk meraih profit sebesar-besarnya dalam proses produksinya karena wabah pandemi ini. Kejadian ini tentu jadi momok bagi dunia, negara, ataupun manusia yang dalam ini mengalami anjlok perekonomian dikarenakan pembatasan aktivitas dalam rangka memutus penyebaran virus. Meskipun sebagian masih ada yang memanfaatkan situasi ini dengan curang seperti penimbunan masker, handzanitizer dan banyak lagi. Tapi dibalik pandemic ini ada hikmah yang lupa kita syukuri. Dimana bumi berangsur membaik karena pembatasan aktivitas manusia.
   Dikesempatan kali ini saya lebih sepakat kepada beberapa kelompok religius yang mengatakan kalau pandemi ini adalah teguran dari tuhan. Bahwa setiap kejadian ada hikmahnya. Mungkin saat kita sedang diperhadapkan dengan teguran atas keserakahan kita terhadap bumi yang telah menghidupi manusia sejak generasi pertama sampai saat ini. Kita yang selama ini terus-terusan dalam meningkatkan kemakmuran hidup tapi mengenyampingkan keselamatan bumi dan habitatnya. Mengutip quote dari Eric Wainer “ketika pohon terakhir ditebang, ketika sungai terakhir dikosongkan, ketika ikan terakhir ditangkap,barulah manusia akan menyadari bahwa uang tidak bisa dimakan”.
   Dibalik pandemi ada bumi yang pulih. Semoga badai cepat berlalu dan kesalahan yang lalu sudah harus berlalu. Bahwa setelah ini kita harus bergerak bersama melestarikan. Jika berat setidaknya jangan merusak dan terus mengumandangkan jagalah alam sekitarmu, itu sudah sangat membantu.
    Semoga kita semua adalah orang-orang yang senang melihat bumi sehat. Adalah orang-orang yang peduli dampak panjang terhadap setiap perlakuan kita terhadap bumi. Adalah orang-orang yang panik ketika bumi sedang tidak diperlakukan dengan sewajarnya. Dan adalah orang-orang yang mengenyampingkan kemaslahatan pribadi atau golongan daripada kemaslahatan bersama. Tidak mudah tapi juga tak sulit. Mulailah dari diri sendiri.

Senin, 06 April 2020

puisi '' nanti kita cerita sepi ini''

nanti kita cerita sepi ini

nanti kita cerita
tentang kita yang berdaptasi
merangkul hari yang berhasil diduduki sepi
dibalik jiwa rekreasi merontah ingin keluar dalam diri
bahwa semua bukan perkara finansial
harta tak mampu meredam nasib sial
bahwa bencana akan menggagalkan segala rencana
kita hanya perlu perbanyak mengkomsumsi rasa syukur
benahi diri dan kesalahan kemarin sudah harus gugur
karena hari esok tak bisa kita ukur
nanti kita cerita lagi
tentang perjuanganku mengalahkan rindu
yang sedari tadi mengusulkan temu
bahwa ini bukan cuma aku dan kamu
yang memendam jenuh di rumah melulu
tapi semua
semua pasti sedang diujung nestapa
susah hati merindu bercanda disatu meja makan yang sama
nanti kita cerita
tentang apa yang membuatku kalah
kalah sekaligus lelah
atas jarak yang kini bukan lagi sekedar batas
bukan lagi sepi yang mampu diretas
bahwa setiap jumpa harus kubuat berkualitas
meski akhirnya harus lepas
meski lagi-lagi aku cemas