Berpetualang itu bentuk syukur
Masalah hidup kadang memasuki tahap amat, tapi manusia selalu saja menolak tamat. Ada-ada saja caranya untuk membangkitkan semangat, berpetualang contohnya. Lantas benarkah berpetualang itu sebagai bentuk rasa syukur?
Mungkin saja mereka yang tak pernah merasakan terjalnya menuju puncak gunung, lelahnya menyebrangi lautan lepas, ataukah panasnya ditengah pematang sawah mungkin tak akan sepakat jika berpetualang adalah bentuk rasa syukur.
Mungkin mereka lebih memilih terkurung dikamarnya yang aman, bersenggama dengan gadgetnya, mengacak kolom komentar agar tenar, dan pasrah oleh kota yang menawarkan segala kemewahan. Memang lazim jika mereka terlampau bahagia dan merasa bersyukur diseputar wilayah itu. Tapi rasa syukur yang kumaksud disini ialah rasa syukur kepada sang pencipta karena masih diberikannya waktu juga kekuatan untuk memandang dan mencumbu ciptaannya yang wah, yang tidak bisa saya ilustrasikan dengan kata-kata. Barangkali ada yang bertanya apa gunanya menjebak diri di alam liar yang sewaktu-waktu bisa merenggut atmaku, padahal sudah ada zona aman yang mengihidangkan kehidupan layak, wifi, greentea dingin dan tempat yang glamor juga tempat bersua foto sebagai kebutuhan sosmed. Tapi secara tidak langsung alam bebas mengajarkan saya banyak hal kecil yang berdampak besar bagiku, salah satunya kesederhanaan. Diperjalanan terkadang makanan yang seharusnya dimakan satu orang saya makan bertiga, tidur bersempitan karena tenda yang pas-pasan dan masih banyak lagi. Seberes berpetualang Di tengah hiruk pikuk kota saya akhirnya sadar, kalau egoku kadang kurang ajar, kalau mengeluh bukan hal yang wajar, membuatku harus banyak tahu dan banyak belajar, bahwa kunci menuju puncak adalah sabar. Petualangan adalah candu, rasa syukur adalah plusnya, karena dari langkah yang melelahkan kita akan lebih memaknai kehidupan yang cuma sekali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar