Senin, 09 Mei 2022

Puisi "muda-mudi'



Masa muda masa meramu

memilah-milah memilih -milih

tangan memegang ini lidah mengecap itu

tubuh berhasil mengeja hal baru

seluruh yang abu-abu


melaju melawan arus

kau begitu batu menentang jatuh

semoga tidak lupa kabur

lalu pulang tidak sebagai benalu

Sabtu, 02 Mei 2020

esai "regulasi intimidasi bersampul solusi"



Regulasi intimidasi bersampul solusi

   “Pembatasan aktivitas sosial” begitulah kira-kira wajah atau tampilan kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam merespon pandemi covid-19 ini. Namun bisakah seluruh lapisan masyarakat menyambut hangat kebijakan ini? Sebelum menjawabnya mungkin kita telaah dulu himbauan  social disctancing yang dimaksud pemerintah. Serupa seruan lelaki kepada kekasihnya untuk tidak tidur terlalu larut karena mengganggu kesehatannya. Himbauan tetaplah hanya sebatas himbauan, bukan soulusi. Si kekasih mungkin akan tetap melanggar larangan begadang lantaran perutnya keroncongan dikarenakan uang jajannya harus dilarikan kepembelian paket internet agar bisa hadir diperkuliahan online. Atau sikekasih akan tetap mempertaruhkan kesehatannya dengan begadang karena ada tugas yang belum diselesaikan atau urusan lain yang harusnya si lelaki pahami agar menemukan kunci untuk penyuksesan himbauannya terebut. Selain itu ada lagi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang dilakukan oleh wilayah yang memenuhi syarat dan disetujui pemerintah pusat. Inti dari kebijakannya adalah pembatasan aktivitas sosial tanpa memenuhi kebutuhan masyarakat yang berbeda dengan lockdown atau karangtina.

    Jika kembali kepada pertanyaan sebelumnya, mampukah seluruh masyarakat menyambut kebijakan pemerintah? Mungkin buruh formal seperti guru,dosen, staf kantor dan lain-lain  masih bisa melakukan work from home dengan santai karena ada tabungan darurat dan fasilitas memadai dirumahnya. Namun apakah negara pernah menyempatkan dirinya melirik buruh informal seperti tukang becak, pedagang asongan, dan lain-lain? Akankah pemerintah peduli terhadap buruh ini seperti pedulinya menjaga kestabilan ekonomi negara?

    Psbb adalah bentuk kegagalan pemerintah dalam mewujudkan salah satu cita-cita negara yaitu mewujudkan kesejahteraan umum. Buruh adalah salah satu motor penggerak ekonomi bangsa. Dari otot dan otaknya negara mampu hadir dalam dunia persaingan. Namun terjadinya phk dimana-mana adalah bukti kegagalan pemerintah dalam melindungi buruh yang sama saja gagal melindungi perekonomian. Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi Provinsi DKI Jakarta mencatat 14.697 perusahaan telah merumahkan 13.279 buruh.

   Buruh informal yang harus menyambung hidup dengan bekerja dilapangan secara  fisik harus terkena imbas dari kebijakan pembatasan aktivitas sosial ini. Kebijakan yang dianggap solusi bagi pemerintah dalam memutus rantai penyebaran virus adalah sebuah intimidasi nyata bagi kaum buruh. Saya menilai kebiakan ini tidak dilakukan diskusi yang sampai keakar permasalahan. Kebijakan yang tidak disertai perlindungan  dan pemenuhan hak hidup bagi pekerja atau buruh. Pemerintah seolah menyuruh kita lari tapi dia memegang erat kaki kita. Dengan mematuhi peraturan tersebut, buruh mungkin akan terhindar dari virus corona tapi efek samping dari semua itu adalah buruh akan diseret ke virus atau penyakit  baru yaitu kelaparan.

   Dewan perwakilan rakyat  (DPR) pun yang mengatasnamakan dirinya sebagai penampung aspirasi rakyat  masih sibuk mencari celah meloloskan uu omnibus law. salah satu isinya membahas tentang UU ketenagakerjaan yang didalamnya terdapat banyak kejanggalan. Diantaranya menghapus upah minimum, pesangon dan lain-lain. Jelas terlihat penindasan pemerintah dalam UU tersebut yang memangkas hak buruh dan memanjankan investor.

    Bangsa yang besar adalah bangsa  yang menghargai buruh. Bangsa yang memanjakan investor hanya akan memperbesar perut binatang berwujud manusia(kapitalis) yang rakus dan tak henti mengeksploitasi buruh. Pemerintah mungkin tahu kalau tugas negara adalah bersatu dan adil, mewujudkan kesejahteraan umum, menjaga ketertiban dan lain-lain tapi hanya sebatas tahu, minim cara untuk merealisasikan bahkan parahnya kadang melenceng.  

   Dalam hal ini pemerintah sebagai pemangku kebijakan tertinggi sudah sewajibnya mengkalkulasi kebijakan yang akan dikeluarkan. Seluruh regulasi harus dipertimbangkan dampaknya terhadap semua lapisan masyarakat. Semoga hak buruh informal yang langganan memperoleh efek samping  kebijakan  pemerintah tak lagi dikesampingkan. Semoga tidak ada lagi regulasi bersampul solusi tapi berisi intimidasi. Dan semoga kita semua tekhusus buruh tidak terlalu larut kesewenang-wenangannya. Kita yang selama ini lebih mudah meramalkan kapan terjadinya kiamat daripada kapan berakhirnya pemerintah dan kapitalis berhenti memangkas hak buruh. Sebagai penutup, saya mengutip kata Rosa Luxemburg “dibalik setiap fasisme adalah revolusi buruh yang dikalahkan .” karena pilihannya hanya dua: sosialisme atau barbarisme.

 


Kamis, 30 April 2020

esai "dibalik pandemi ada bumi yang pulih"




Dibalik pandemi ada bumi yang pulih


   “Cepat sembuh bumiku”. Kurang lebih begitulah story juga postingan segelintir orang dalam merespon pandemi covid-19 ini. Hal yang justru berbanding terbalik menurut perspektif pribadi saya. Siapa yang sebenarnya sakit? Bumi atau manusianya? Atau mungkin kita sedang keliru saja dalam menanggapi pandemi ini karena dirundung kepanikan, dan semoga bukan asal berbuat agar trending atau agar memperoleh pujian responsive dari viewers juga followers.
   Jika berkaca pada media informatif yang menafsirkan kondisi bumi saat ini, yang dimana berkurangnya polusi dan elusi yang diakibatkan pabrik industri juga beberapa kendaraan yang tidak ramah lingkungan. Lapisan ozon yang perlahan pulih juga satwa liar hutan dan laut yang kembali lompat girang kesana kemari karena pengurangan aktivitas pengeboman dan penebangan liar. Dan masih banyak hal positif lain yang dirasakan bumi. Seolah bumi sedang bernapas lega dari lelah menahan sakit akibat ulah manusia yang membenarkan segala cara atas nama kemakmuran.
    Dari beberapa informasi ini saya mengambil kesimpulan, kalau masa pandemi ini kitalah manusia saat ini yang sedang sakit atau terkena dampak negatif dari pandemi ini, sedangkan bumi berada pada masa proses pemulihan atau lebih tepatnya terkena dampak positif dari pandemi covid-19 ini. Bagaimana tidak? Manusia kini dikelilingi rasa takut karena virus yang mematikan ini. Silaturahmi kaum kapitalis yang tak henti menindas kaum buruh seolah menemui jalan buntu untuk meraih profit sebesar-besarnya dalam proses produksinya karena wabah pandemi ini. Kejadian ini tentu jadi momok bagi dunia, negara, ataupun manusia yang dalam ini mengalami anjlok perekonomian dikarenakan pembatasan aktivitas dalam rangka memutus penyebaran virus. Meskipun sebagian masih ada yang memanfaatkan situasi ini dengan curang seperti penimbunan masker, handzanitizer dan banyak lagi. Tapi dibalik pandemic ini ada hikmah yang lupa kita syukuri. Dimana bumi berangsur membaik karena pembatasan aktivitas manusia.
   Dikesempatan kali ini saya lebih sepakat kepada beberapa kelompok religius yang mengatakan kalau pandemi ini adalah teguran dari tuhan. Bahwa setiap kejadian ada hikmahnya. Mungkin saat kita sedang diperhadapkan dengan teguran atas keserakahan kita terhadap bumi yang telah menghidupi manusia sejak generasi pertama sampai saat ini. Kita yang selama ini terus-terusan dalam meningkatkan kemakmuran hidup tapi mengenyampingkan keselamatan bumi dan habitatnya. Mengutip quote dari Eric Wainer “ketika pohon terakhir ditebang, ketika sungai terakhir dikosongkan, ketika ikan terakhir ditangkap,barulah manusia akan menyadari bahwa uang tidak bisa dimakan”.
   Dibalik pandemi ada bumi yang pulih. Semoga badai cepat berlalu dan kesalahan yang lalu sudah harus berlalu. Bahwa setelah ini kita harus bergerak bersama melestarikan. Jika berat setidaknya jangan merusak dan terus mengumandangkan jagalah alam sekitarmu, itu sudah sangat membantu.
    Semoga kita semua adalah orang-orang yang senang melihat bumi sehat. Adalah orang-orang yang peduli dampak panjang terhadap setiap perlakuan kita terhadap bumi. Adalah orang-orang yang panik ketika bumi sedang tidak diperlakukan dengan sewajarnya. Dan adalah orang-orang yang mengenyampingkan kemaslahatan pribadi atau golongan daripada kemaslahatan bersama. Tidak mudah tapi juga tak sulit. Mulailah dari diri sendiri.

Senin, 06 April 2020

puisi '' nanti kita cerita sepi ini''

nanti kita cerita sepi ini

nanti kita cerita
tentang kita yang berdaptasi
merangkul hari yang berhasil diduduki sepi
dibalik jiwa rekreasi merontah ingin keluar dalam diri
bahwa semua bukan perkara finansial
harta tak mampu meredam nasib sial
bahwa bencana akan menggagalkan segala rencana
kita hanya perlu perbanyak mengkomsumsi rasa syukur
benahi diri dan kesalahan kemarin sudah harus gugur
karena hari esok tak bisa kita ukur
nanti kita cerita lagi
tentang perjuanganku mengalahkan rindu
yang sedari tadi mengusulkan temu
bahwa ini bukan cuma aku dan kamu
yang memendam jenuh di rumah melulu
tapi semua
semua pasti sedang diujung nestapa
susah hati merindu bercanda disatu meja makan yang sama
nanti kita cerita
tentang apa yang membuatku kalah
kalah sekaligus lelah
atas jarak yang kini bukan lagi sekedar batas
bukan lagi sepi yang mampu diretas
bahwa setiap jumpa harus kubuat berkualitas
meski akhirnya harus lepas
meski lagi-lagi aku cemas



Selasa, 24 Desember 2019

puisi ''rindu dipenghujung malam''


rindu dipenghujung malam

Angin kembali mengelambui tubuh
Desir-desirnya menjelma bunga kebaikan
Mencoba mendamaikan rindu yang bangun dari mimpi buruk
Terpuruk dari tidur yang beralas sabar
Yang sudah hampir terkeruh surut
Jika malam benar-benar sunyi ditinggal sang sore
Telinga siapa yang siap menampung bunyi keluhnya
Mulut siapa yang siap merakit kalimat-kalimat penyemangat untuknya
Oh tidak
Barangkali aku terlalu menyepelekan
Mungkin dia tidak seremeh aku
Yang tak mampu menjinakkan rindu yang begitu riuh
Yang tak sanggup memagari temu untuk berteduh dahulu
Ahh sudahlah
Mungkin aku dan malam benar-benar senasib
Petualang yang tak tau jalan pulang
Yang tak mempan jika ditinggal sendirian
Tapi tak apa
Akan kusampaikan pesanku pada sepoi angin malam
Yang telah kusisipkan sebuah kecupan
Kuharap mendarat tepat  didaratan keningmu
Akan kulipat jarak dengan menyusup diantara bunga tidurmu
Kubuat mimpimu menjadi angkasa bertabur kelap-kelip bintang

Sabtu, 14 Desember 2019

Puisi mahasiswa "penjara kamarku"


Penjara kamarku

Terlentang
Tubuhku terlentang pasrah akan nyaman
Diriku kutitip pada penjara yang kurasa aman
Semangat pendahuluku harus rontok dikelabui oleh zaman
Ruang-ruang imajinasi dipagari ruang-ruang yang terfasilitasi
Sungguh hebat perjuangan para pahlawan
menggadaikan nyawa demi sebuah kemerdekaan
Sementara aku
Aku dan generasiku
Masih sibuk berpacu dengan handphone keluaran terbaru, menyalin kata rayu dari kutipan penyair pendahulu menjadikan lawan jenis layu
Bagai bunga yang tak disiram seminggu yang lalu
Sungguh malang jiwa-jiwa yang melayang
Mungkin hujan kemarin turun untuk sebuah maksud
Atau mungkin hujan kemarin adalah ribuan air mata para pejuang yang menangis jauh di awan sana
Melihat pemuda
Melihat pemudi
Melihat saya
Melihat kau
Melihat kita semua
Masih betah dengan kopi dan wifi berkecepatan tinggi
Masih sibuk menyinggung berjuang mengihibur diri dalam rentatan insta story
Masih enggan hijrah jadi budak teknologi
Terbelenggu terprivasi
Kemampuanku sampai sini saja
Generasiku akan begini-begini saja
Sebelum kita keluar dari zona nyaman
Mengendalikan setiap tantangan zaman
Kurangi cari aman
Diluar sana kita akan cemerlang



Sabtu, 17 Agustus 2019

 "DUNGU"

dipekat malam aku menepi
mencari tempat yang paling gelap
dan merenung

sengaja untuk memikirkanmu
mencari sesuatu
memilahnya dengan jitu
dari hal yang haru
hingga yang berubah menjadi hura

lalu tak sengaja terlelap
dan
kembali tersadar

pagi ini
matahari sedang percaya diri
cakrawala menyombongkan diri
menunjukkan jati
sedangkan jiwaku kembali
pada nurani

terpejam lalu gelap
berharap pikiranku segera lenyap
dan membuka nyatanya semua hilang
setelah hamparan samudra awan
menghiasi dan canda para kawan
aku kembali mengenggam cawan
menikmati walau itu sisa semalam

Aku kira kau tak akan pergi
sebab kau selalu berjanji
aku kira kau akan menetap
sebab kau selalu meyakinkan dengan tatap


Biring Panting, 28 Juli 2019 
oleh hahamiddd

Kamis, 08 Agustus 2019

"libur,bencana yang terencana"

Libur, bencana yang terencana

Kampus 2 uin alauddin

Malamku tak lagi bergelimang bintang
Sebab kelap-kelipnya menjelma kekhawatiran
Masihkah hadirku menjadi solusi saat kau hampir mati diujung penyayatan?
Atau mungkin tingkahku tak lagi menjadi alasan senyum penuh kiasan?
Sungguh hidupku penuh manipulasi
Berkata semua baik-baik saja disini
Sedangkan tak disisi hanyalah lumpuh tak berdiri
Padahal kau sudah permisi
Berjanji kembali dikemudian hari
Kini sabar dan rinduku tak henti berembuk
Menentukan penguasa lorong-lorong hati yang sedari lama sepi
Atas kuasa siapa semuanya memburuk
Jika membunuh orang adalah melanggar
Mengapa jarak tak pernah dihukum?
Mengapa waktu tak pernah kena ganjaran?
Sedangkan mereka telah membantai secara berencana
Atas dua manusia yang sedang memadu warna
Pisah karena musim libur tak kunjung reda
Kuharap doaku akurat kesana
Kutunggu kau dilembaran akhir buku penantian
Menulis ulang harapan yang sudah usang
Ditelan habis libur tak bertepian

Rabu, 07 Agustus 2019

Lika liku seru menuju puncak bawakaraeng


Lika liku seru menuju puncak bawakaraeng

Desa lembanna

   Kamis jam 10 malam aku dan 7 teman lainnya akhirnya sah untuk bertolak ke malino tempat gunung bawakaraeng berdomisili. Waktu yang sangat molor dari kesepakatan rapat kecil-kecilan sehari sebelumnya yang harusnya sudah otw dari jam 3 siang namun lantaran alat belum lengkap kami harus keliling untuk melengkapinya,  ya namanya juga pendaki musiman. Tapi kerennya tak satupun dari kami merasa bersalah ataupun menyalahkan, haha bagaimana tidak? Telat telah lama menjelma jadi tradisi disetiap derap langkah petualangan kami sebelumnya atau mungkin juga bisa jadi ini turunan sifat waktu sekolah dulu.
   Setelah kurang lebih 2 jam kami bergelut dengan aspal akhirnya kami sampai di sebuah desa bernama biring panting, di sebuah rumah tingkat dua yang dinginnya masuk tahap amat sekaligus kediaman salah satu teman kampus saya yang bernama nuge. Ohiya disini juga jadi tempat beristirahat kami selama satu malam sebelum esok melakukan pendakian. Dengan duduk melingkar kami hangat dalam bincang ringan ditengah dinginnya malino, sembari tuan rumah menyiapkan makanan. Nuge adalah contoh manusia yang sangat sadar diri, waktu, posisi, bagaimana tidak? Dia sangat paham dengan kami yang mudah keroncongan apabila tersenggol angin dingin meskipun minim. Namun yang disayangkan kali ini tuan rumah tidak mengindahkan ajakan kami untuk muncak bersama lantaran ada tugas yang harus diselasaikan. Selepas menyantap makanan dari tuan rumah kamipun akhirnya tumbang dan merebahkan diri, ya mungkin karena terlalu lahap hingga kekenyangan.
‌   Pagi datang pada waktunya, kamipun bergegas merapikan tempat tidur sekaligus packing ulang alat yang ingin dibawah untuk bertempur dengan gunung bawakaraeng yang katanya memiliki segudang rintangan yang melelahkan. Sesudah itu kami menyantap lagi makanan yang sedari tadi sudah disiapkan oleh tuan rumah. Berselang beberapa menit kamipun pamit menuju desa terakhir sekaligus tempat start para pendaki yang bernama desa lembanna. Sesampai di desa terakhir kami memarkir motor disalah satu rumah warga sembari menunggu waktu sholat jumat. "Yang ganteng pasti sholat jumat", kata yang selalu menjadi penyemangat langkah kami dalam melaksanakan ibadah sholat jumat. Seberes sholat, kami pun benar-benar memulai petualangan ini, yang kami mulai dengan berdoa agar kami diberi lindungan dalam setiap derap langkah kami. Perjalananku kali ini beranggotakan 8 orang, yang diantaranya ada aing, sarul, fajri, fajar, noval syukur, agus, dan saya sendiri.
   Diawal perjalanan kami asik bercerita ria, tak jarang juga saling mengolok satu sama lain. Dipertengahan menuju ke pos 1 kami memutuskan duduk sejenak sembari meminum air yang sudah diisi di rumah warga tadi. Tak ingin berlama-lama kamipun berdiri lagi dan memulai kembali ayunan kaki yang menolak kendor. Suara binatang-binatang disekitar mulai menunjukkan pesona suaranya yang seolah menyambut kedatangan kami. Berselang beberapa jam, kami akhirnya sampai di pos 2. Kami sepakat untuk mampir sejenak untuk mengisi botol air yang sedari tadi menipis sebagai amunisi melanjutkan perjalanan. Di pos ini terdapat sungai kecil mengalir yang biasa disinggahi oleh pendaki lain maupun warga lokal, namun sayangnya kali ini saya dan aing yang bertugas mengambil air harus berjalan lebih keatas dikarenakan alirannya agak surut. Selepas itu kamipun melanjutkan lagi perjalanan yang ditemani pancaran surya yang menyengat sisi-sisi kulit. Medan yang datar nan mudah perlahan menghilang, kontur jalur yang berubah-ubah semakin menguras tenaga. Seolah gunung sedang berkata "selamat datang, selamat menikmati rintangan".  Cerita juga candaan mulai berkurang, nampak wajah-wajah kusam lesuh dari kami yang menggambarkan keletihan yang tak biasa. Napas yang tak beraturan diiringi alunan detak jantung yang deras memaksa kami untuk beberapa kali duduk istirahat.
   Langkah demi langkah kita tapaki akhirnya saya tiba di pos 4 dan untuk sekian kalinya kami istirahat lagi. Saling menatap kemudian menertawai satu sama lain, itulah yang terjadi saat itu. Kami seolah-olah sedang tidak ada apa-apa padahal otot badan terasa menjerit minta ampun. Tak jarang juga diselanya kami sisipkan kata-kata untuk saling menyemangati. Sembari berbincang kami meneguk air yang sudah dicampur dengan bubuk rasa juga memakan roti coklat kemasan lima ribuan untuk menumbuhkan kembali stamina yang sedari tadi menipis. Setelah menghanguskan sebatang rokok, kami lanjut berdiri lalu kembali memulai langkah kecil menyambung rentetan rintangan. Dengan perjuangan penuh, kami lalu tiba di padang sabana yang membentang. Tempat pos 5 bersemayam. Disini kami resmi beristirahat full semalaman untuk memulihkan tenaga yang sudah lowbat. Kami membagi tugas, aku dan fajar bertugas mengambil air yang lokasinya
cukup jauh nan melelahkan sedangkan sisanya bekerja mendirikan tenda dan mengikat hammock disisinya.
   Tepat pukul 05.30 sang surya berwarna jingga dengan malu-malu mengintip dari kejauhan. Kami silih berganti meneguk kopi yang baru beberapa detik lalu selesai dibuat ditengah-tengah tenda yang terpatok kuat disela-sela hutan sabana sembari menyaksikan sore yang sebentar lagi berganti tugas dengan malam.
 ‌  Setalah langit hitam benar-benar sah menyelimuti, kami lalu mengganti dan mengeluarkan alat perang yang baru yaitu jaket outdoor tebal dan celana panjang untuk melawan jahatnya suhu dingin pegunungan. Beberapa dari kami pun mulai menunjukkan aksi dalam mengolah ransum yang sudah kami sediakan sebelumnya. Kami berkaloborasi seperti sebuah keluarga bahagia yang mencoba bertahan hidup ditengah banyaknya cobaan. Bedanya, keluarga kali ini tanpa ibu. Hahah iyalah orang kita semua batangan alias laki-laki. Setelah berlama-lama mengotak-atik air, beras, mie berkuah, wortel dan kentang, makananpun sudah siap dihidangkan. Dengan taburan tempe kecap dipotong kecil-kecil yang sudah dibuat oleh ibu fajri sehari sebelum ke malino kamipun dengan sangat bergairah menyantapnya tanpa tersisa sebutir atau setespun. Makan malam kali ini benar-benar berkesan meskipun rasanya sedikit asam, atau mungkin tetesan keringat yang sudah bercampuran. "Hahaha itu urusan perut, nanti didalam dia yang atur" kata seorang dari kami, memecah hening yang makin menjadi. 
   Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh waktu indonesia bagian timur, angin dingin makin tega menyusup ke kulit tipis yang menembus tulang ditengah panasnya bincang rombongan kami. Bincang jenaka, berbalas-balasan mencibir, saling bergantian menyeruput kopi yang masih panas jadi teman menikmati malam yang sangat asik. Saya yang berniat keluar buang air seketika dibuat terkesima oleh hamparan bintang yang tampak lebih dekat berserakan diatas langit. Sayapun langsung mengajak yang lain untuk menyaksikannya. Malam ini benar-benar paket komplit, membuat pegal sekujur tubuh seketika lenyap. Tak lama setelah itu kami lanjut tidur untuk memulihkan kondisi yang sudah berjuang maksimal seharian.
   Pagi-pagi buta, kami lalu bergegas menyiapkan makanan pagi sembari menikmati kopi. Sesuai persetujuan semalam, kami akan melanjutkan perjalanan pagi jam 07.00. Setelah menyantap makanan dan menghisap berbatang-batang rokok, kami lalu mempacking ulang barang dan membongkar tenda. Sayangnya, kami lagi-lagi molor. Semuanya baru beres jam 8 lewat. Kami lalu memulai lagi langkah dengan semangat baru. Kali ini jalur semakin rumit dengan strukturnya yang makin curam. Tapi mengingat puncak yang masih jauh sembunyi didepan sana memaksa kami harus berjuang lebih keras dari sebelumnya.

Pos 7 bawakaraeng
Pos 7 bawakaraeng

   Seberes melampaui beberapa medan kami lalu sampai di pos 7 dengan penuh terengah-engah. Parahnya, perbekalan air sudah habis. Mengingat mata air hanya ada di pos selanjutnya, kami dengan sisa tenaga menyambungkan langkah. Pos selanjutnya memiliki jarak yang terbilang jauh, sehingga kami beberapa kali terpaksa terhenti. Kami berjalan berjuang melawan diri yang sudah melampaui batasnya yang mengharuskan kami menyemangati diri sendiri. Mengingat tujuan kita saat ini adalah puncak, bukan waktu yang tepat untuk memanjakan otot-otot yang sering bermalasan saat dikota. Setelah memakan durasi waktu waktu yang lama menyusuri hutan kamipun akhirnya sampai ke pos 8. Tempat mata air bermukim, yang biasa disebut telaga bidadari. Fajri yang sudah kehausan sedari tadi dengan sigap nan lahap menengguk sebotol air yang diambilnya langsung dari sungai tersebut. Hahaha tampannya seolah ia yang memiliki sungai tersebut sepenuhnya.
Bahkan aku, fajar, agus, noval dan syukur tak peduli dengan suhu yang sudah menggigil sedari tadi. Kami menceburkan kepala sembari sampoan dan sikat gigi meskipun yang terjadi isi kepala serasa membeku. "Ambil air disitu saja, itu air cuci kaki bidadari " canda fajar sambil menunjuk kearah 2 wanita yang sedang bersih-bersih. Kami sontak tertawa terbahak, dan fajar lagi-lagi berhasil mebuat sepi jadi riuh. Saat itu juga julukannya bukan lagi raja nasi, tapi juga raja gombal haha. Karna tak ingin waktu terbuang banyak, kami dengan sigap memulai lagi mengolah persediaan makanan yang akan kami jadi sebagai bahan bakar stamina yang sedari tadi sudah hampir mogok. Sekitaran 30 menit kamipun berberes lalu bergegas menggeruskan langkah melanjutkan perjalanan.



Lajur menuju pos 9 ini termasuk lajur yang sangat curam, memaksa kami harus menaikkan level hati-hati dari yang sebelum-sebelumnya. Ditambah lagi ada jalur yang  bercabang dan mengharuskan kami ekstra jeli dalam menentukan kemana langkah harus berpijak. Dengan napas yang lagi-lagi tersengal-sengal luar biasa kamipun akhirnya sampai ke pos 9. Setelah beberapa menit berembuk, kami memutuskan membagi 2 kelompok. Setelah mengetahui informasi dari salah satu rombongan yang baru turun dari puncak mengatakan kalau di puncak airnya sedang keruh, Aing dan Agus ditugaskan untuk mengisi air yang tempatnya tak jauh dari letak pos 9 lalu sisanya lanjut menuju pos 10 sekaligus pos yang menjadi puncak gunung bawakaraeng. Kini langkah makin semangat bergegas menyusuri hutan-hutan. Puncak yang sudah didepan didepan mata seolah menjadi pelumas bagi tubuh kami yang sudah minta ampun. Meski kami harus beberapa kali lagi berhenti untuk istirahat sejenak dikarenakan jalur yang masih rumit dan jaraknya juga masih teramat jauh. Bunga edelweiss yang hinggap disekitaran jalur menjadi bumbu penyedap dalam perjalanan kami. Ia tumbuh perkasa nan cantik disela-sela rerumputan hijau. Edelweiss yang menari tertiup angin seolah menyemangati dengan bahasa isyarat.
Bunga abadi edelweiss
   Setelah berlama-lama kamipun akhirnya tiba di puncak. Tertampil wajah-wajah kepuasan yang tadinya letih setengah mati. Mata yang tak ingin kehilangan satu detik momenpun ikut bersyukur. Otot-otot tubuh yang tadinya meringis sekarang menjadi pulih seketika. Tak lama berdiam menikmati, Aing dan Agus pun tiba, kami langsung mencari tempat yang cocok untuk berkemah lagi semalaman setelah itu esok harinya kita pulang.
Puncak bawakaraeng

Setelah tenda berdiri kokoh, kami lalu membuat kopi panas untuk menjadi penghias sore dingin ini. Matahari jingga kini tak lagi malu-malu memperlihatkan pesonanya dikelilingi awan lembut yang tampak lebih dekat dari biasanya. Sang jingga perlahan meninggalkan jingganya. Menandakan dia akan pergi. Tatkala gelap benar-benar resmi menyelimuti malam. Bintang-bintang tampak lebih percaya diri menunjukkan sinarnya. Malam kini ditemani angin dingin yang menusuk sekujur tubuh tanpa permisi. Siang esoknya kami berberes lalu bergegas untuk lanjut pulang.
Perjalanan kali ini mengajarkan banyak hal kecil yang berdampak besar bagi saya. Dimana saya menemukan saudara yang tak sedarah. Bahwa apa yang kita perjuangkan itulah yang kita dapat. Dan bukan soal puncaklah yang aku banggakan, tapi prosesi menuju sanalah yang tak akan bisa terlupa.
Puncak bawakaraeng

Puncak bawakaraeng

Tugu puncak bawakaraeng


Sabtu, 20 Juli 2019

Puisi cinta " rindu yang kompromi"

Rindu yang kompromi

Rotasi kembali mempertemukanku pada malam
Ku ingat-ingat lagi yang ada dalam ingatan
Tentang lembar-lembar aktivitas mesra yang kita lewatkan
Rangkaian temu yang kita rajut beberapa hari ini
Terurai beragam kejadian
Tentang ego yang tak mampu kita redahkan
Nyatanya itu bukan sandungan yang mengacak hubungan
Sebab kita yang berupaya saling membangkitkan
Menjadikan kita pemenang dan senang menjulang
Kuharap sekarang juga harus terulang
Ah, tapi kurasa tidak
Ini sudah malam
Iya, harusnya kamu rebahan
Tunggu aku diseberang
Kuajak kau berdansa mengitari taman
Kubantu kau menjadikan mimpimu lebih berkesan
Sudahlah, memang harusnya sudah dulu
Ini kan sudah malam
Padahal siang tadi kita baru saja bersebelahan
Tapi kok aku rasa masih kekurangan
Kembali lagi kuingat-ingat yang ada dalam ingatan
Ternyata memang benar
Masih banyak list janji yang belum aku centang
Menongkrongi pantai dengan sebotol teh susu kemasan kesukaanmu
Sembari menyaksikan sore yang berganti tugas dengan malam
Memang benar masih banyak tempat yang ingin kukenalkan
Nyatanya rinduku harus rebahan
Sebab bekal staminaku takkan kubiarkan pas-pasan
Untung saja rinduku bukan babi hutan
Memangsa tak karuan
Yang setiap detiknya harus ketemuan




Minggu, 16 Juni 2019

Pagi Di Bulan Desember.

"Pagi di Bulan Desember"
Oleh hahahamiddd

Hari ini ia memberi isyarat bahwa ia akan bersedih 
Meruntih

Gemuruh demi gemuruh
Menggerutuh

Mencari hati yang terpendam 
Meredam

Embun berubah massa
Lebih berat dari biasanya
Titik demi titik mengetuk atap
Mengisyaratkan rindu akan menatap

Air turun membasahi tanah
Membekas menjadi curah

Anak anak mengganggap itu genangan
Sedangkan remaja itu adalah kenangan
Anak anak  sangat senang 
Merasa ia menang

Sedangkan remaja pecah
Serasa kalah.


Karunrung 23, September 2018