Post Page Advertisement [Top]


Menghitung Nisan di Tengah Hutan

Kalimantan bukan lagi paru-paru dunia, ia adalah nekropolis tempat jutaan nyawa melata dikubur demi ambisi ibu kota. Kalian membangun gedung di atas jalur migrasi, memutus urat nadi hutan primer demi estetika kota futuristik yang kering nurani. Arne Naess akan menyebut ini sebagai tragedi ekosentris paling kelam di abad ini. ​Misteri dari "kota pintar" adalah mengapa ia harus dibangun dengan cara yang begitu bodoh secara ekologis. Setiap jengkal tanah yang kalian uruk adalah memori purba yang hilang selamanya. Jangan biarkan peradaban baru kita dibangun dengan logika yang rakus, mengabaikan hak makhluk lain untuk tetap memiliki rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]