Post Page Advertisement [Top]

Kreativitas di Era Mesin


Setiap generasi selalu memiliki musuh yang berbeda. Generasi sebelum kita melawan kolonialisme. Generasi setelahnya melawan kediktatoran.

Generasi kita mungkin harus melawan sesuatu yang lebih halus: kemudahan.

AI membuat segala sesuatu terasa instan. Sebuah desain bisa selesai dalam satu menit. Sebuah lagu bisa dibuat tanpa studio.

Namun kemudahan sering kali menyembunyikan jebakan.

Jika semua orang bisa membuat karya dengan cepat, maka yang menjadi langka bukan lagi karya—melainkan keaslian.

Di sinilah tantangan bagi anak muda.

Apakah kita akan menggunakan AI sebagai tongkat penyangga kreativitas, atau justru sebagai alat untuk memperluas imajinasi?

Seorang pemikir seperti Tan Malaka pernah menekankan pentingnya berpikir merdeka. Dalam konteks seni, berpikir merdeka berarti tidak tunduk pada alat, bahkan jika alat itu sangat canggih.

AI seharusnya membantu kita berpikir lebih jauh, bukan menggantikan proses berpikir itu sendiri.

Bayangkan seorang seniman yang menggunakan AI untuk mengeksplorasi ide-ide baru, lalu mengolahnya dengan pengalaman hidupnya sendiri.

Di situ, teknologi dan kemanusiaan bertemu.

Seni masa depan mungkin bukan karya manusia atau karya mesin.

Melainkan kolaborasi antara keduanya.

Namun dalam kolaborasi itu, manusia harus tetap menjadi pusatnya.

Karena hanya manusia yang tahu bagaimana rasanya hidup.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]