Sejarah adalah guru yang kalian abaikan demi ambisi lima tahunan yang dangkal. Kalian membangun di atas jalur air, menimbun rawa dengan janji-janji kemakmuran, lalu heran mengapa alam menuntut ruangnya kembali. Ini adalah arsitektur amnesia, di mana kita dipaksa melupakan kearifan leluhur demi mengejar siluet kota global yang artifisial. Pemerintah bertindak seperti kurator imej yang handal, pandai mengemas kegagalan menjadi narasi "kejadian luar biasa." Padahal, tidak ada yang luar biasa dari kebijakan yang terus-menerus mengulang kesalahan yang sama. Keadilan ekologi adalah hak, bukan hadiah dari penguasa yang lebih suka solusi yang asal ketuk daripada perbaikan struktural.
puisiPuisi alamPuisi mahasiswaPuisi politik
Puisi "Arsitektur Amnesia: Menanam Beton Menuai Bah"
Tags: puisi
, Puisi alam
, Puisi mahasiswa
, Puisi politik
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar