Post Page Advertisement [Top]

Kabut Malino di Atas Arang Kalimantan

 Pernahkah kalian merasa bahwa healing di Malino hanyalah sebuah pelarian dari kenyataan yang sedang terbakar? Saat kita menyesap kopi di bawah rindangnya pohon pinus, kabut yang menyentuh wajah kita sebenarnya adalah sisa dari romantisasi alam yang sedang dipertaruhkan. Di belahan lain, Kalimantan sedang meronta; paru-parunya diamputasi demi akumulasi modal yang menurut Marx akan selalu melahap segalanya demi pertumbuhan.

​Faktanya, saat kita merayakan hijaunya Malino, jutaan hektar hutan Kalimantan telah berubah menjadi bentang arang. Kita hidup dalam Antroposen, sebuah era di mana jejak kaki manusia lebih tajam dari taring predator. Pejabat kita seringkali bertindak secara Machiavellian: memoles citra pariwisata yang estetik, sementara di belakang layar, izin-izin ekstraktif diberikan seolah-olah alam tak punya batas lelah.

​Opini saya sederhana: mencintai Malino tanpa peduli pada kehancuran Kalimantan adalah sebuah "kebimbangan intelektual". Kita tidak bisa menikmati oksigen kelas atas sementara saudara kita di sana menghirup jelaga. Ini bukan sekadar musibah, ini adalah kesalahan kebijakan yang dikemas secara sistemik.

​Mari kita jadikan perjalanan ke Malino sebagai momen kontemplasi, bukan sekadar pemenuhan konten media sosial. Kita butuh revolusi kesadaran ala Che Guevara; sebuah pemberontakan nalar untuk menuntut kedaulatan akar dan tanah sebelum semuanya menjadi debu.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]