Dunia Terbakar, Diplomasi Indonesia Terlihat Sunyi
Perang tidak pernah benar-benar jauh dari peradaban manusia. Ia hanya berpindah tempat, berganti nama, dan muncul kembali ketika manusia gagal belajar dari sejarahnya sendiri. Hari ini dunia kembali menatap Timur Tengah dengan kecemasan yang sama.
Serangan militer besar dilaporkan terjadi setelah operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel menyerang wilayah Iran, memicu balasan misil dan drone yang memperluas ketegangan regional. �
AP News + 1
Ini bukan sekadar konflik dua negara. Ini adalah percikan api yang berpotensi menyalakan seluruh kawasan.
Iran sendiri sudah berada dalam situasi internal yang tidak stabil sejak gelombang protes besar pada akhir 2025. Represi terhadap demonstrasi bahkan dilaporkan menewaskan ribuan warga dan memicu kecaman internasional. �
Wikipedia
Ketika perang dan krisis politik bertemu dalam satu ruang, dunia seharusnya bergerak dengan cepat untuk mencegah tragedi yang lebih besar.
Namun di sinilah ironi muncul.
Indonesia sering menyebut dirinya sebagai negara yang menjunjung tinggi diplomasi perdamaian. Sejak masa awal kemerdekaan, bangsa ini bangga dengan politik luar negeri bebas aktif.
Masalahnya, kebanggaan itu tidak selalu terlihat dalam praktik.
Ketika konflik global semakin tajam, suara Indonesia sering terdengar terlalu hati-hati—bahkan nyaris tak terdengar.
Generasi muda hari ini patut bertanya: apakah diplomasi kita benar-benar berdiri di atas prinsip kemanusiaan, atau hanya berhenti pada pernyataan formal yang aman secara politik?
Perdamaian bukan hanya kata yang indah dalam pidato.
Perdamaian adalah keberanian untuk bersikap jelas ketika dunia berada di persimpangan moral.
Dan jika diplomasi kita hanya berjalan di tengah-tengah tanpa arah yang tegas, maka dunia mungkin tidak melihat Indonesia sebagai penyeimbang.
Dunia mungkin hanya melihat kita sebagai penonton.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar