Seni, Algoritma, dan Jiwa Manusia
Sebuah algoritma dapat mempelajari jutaan lukisan dalam beberapa jam. Ia dapat memahami komposisi warna, perspektif, bahkan gaya seniman terkenal.
Namun ada satu hal yang tidak dapat ia pelajari.
Kesadaran.
Filsuf seperti Ibn Sina pernah berbicara tentang kesadaran diri sebagai inti dari keberadaan manusia. Kita tidak hanya berpikir—kita sadar bahwa kita sedang berpikir.
AI tidak memiliki kesadaran seperti itu.
Ia tidak tahu bahwa ia sedang menciptakan sesuatu.
Ia hanya menjalankan perintah.
Inilah perbedaan yang sering terlupakan ketika kita berbicara tentang AI dalam seni.
Sebuah lukisan bukan hanya hasil dari teknik.
Ia adalah rekaman dari jiwa penciptanya.
Ketika seorang pelukis mencampur warna, ia sebenarnya sedang mencampur ingatan, emosi, dan pengalaman hidup.
AI tidak memiliki ingatan semacam itu.
Ia hanya memiliki data.
Maka mungkin pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah AI bisa membuat seni.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah manusia masih ingin menciptakan seni?
Jika jawabannya ya, maka AI hanyalah alat.
Jika jawabannya tidak, maka seni mungkin benar-benar berada dalam bahaya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar