Post Page Advertisement [Top]


Membangun Surga di Atas Rahim yang Amputasi

Pernahkah kalian membayangkan sebuah kota masa depan yang lahir dari operasi sesar paksa terhadap hutan primer? IKN, atau yang mereka sebut sebagai "Smart Forest City", bagi saya hanyalah sebuah simulakrum—kenyataan buatan yang lebih estetik dari aslinya, namun kosong secara substansi ekologis. Al-Farabi pernah memimpikan "Kota Utama" yang dipimpin oleh kebajikan, namun hari ini kita justru melihat kota yang lahir dari rahim akumulasi modal tanpa nurani.

​Faktanya, ribuan hektar paru-paru dunia di Kalimantan sedang direduksi menjadi kavling-kavling beton. Pemerintah sibuk memoles diksi "keberlanjutan" di media sosial, sementara ekskavator sedang menulis rekviem bagi habitat fauna yang kian terfragmentasi. Ini adalah nekropolitika; sebuah kekuasaan yang menentukan wilayah mana yang boleh hidup dan wilayah mana yang harus punah demi gedung-gedung kaca yang angkuh.

​Sebagai Gen-Z, kita jangan sampai tertipu oleh render arsitektur yang berkilau. Kemajuan yang mengabaikan kedaulatan akar adalah bentuk pengkhianatan terhadap masa depan. Kita tidak sedang membangun peradaban, kita sedang membangun monumen bagi keserakahan yang makin rakus. Jika beton bisa memproduksi oksigen, barulah saya akan berhenti mengkritik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]