Dialektika Isi Kepala
Aku jatuh cinta pada caramu membedah kerumitan dunia,
lebih dari caramu memulas warna di sudut bibirmu.
Diskusi kita adalah simfoni yang melampaui segala fana,
di mana logika dan rasa bersetubuh dalam rindu yang syahdu.
Kencan hari ini seringkali terasa seperti pasar emosi yang dangkal,
penuh dengan tanya basa-basi yang dikemas demi citra sosial.
Namun engkau adalah lawan bicara yang membuatku tetap berakal,
menghancurkan kedunguan massal dengan prinsip yang esensial.
Engkau adalah pustaka tempat hatiku belajar tanpa akhir,
mengajarkan bahwa asmara sejati butuh pemikiran yang merdeka.
Biarlah asmara orang lain hanya sampai di permukaan bibir,
cinta kita berakar di kedalaman gagasan yang takkan pernah duka.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar