Nekropolitika di Serambi Duka
Di tanah Aceh yang dipenuhi sejarah perlawanan, kini rakyatnya dipaksa tunduk pada nekropolitika—sebuah kekuasaan yang menentukan siapa yang boleh hidup dan siapa yang dibiarkan mati dalam genangan. Filsuf Al-Ghazali akan menangis melihat bagaimana agama dijadikan topeng untuk menutupi ketidakmampuan pemerintah dalam menjaga amanah atas alam yang kudus. Kalian berkhotbah tentang takdir, padahal longsor itu adalah akibat dari kebijakan kalian yang bulus.
Estetika keprihatinan yang kalian tunjukkan di depan kamera adalah penghinaan terhadap akal sehat. Kalian membagikan paket bantuan seolah-olah itu adalah anugerah, padahal itu hanyalah remah-remah dari hak rakyat yang kalian curi melalui eksploitasi hutan yang rakus. Air mata warga adalah tinta yang menuliskan raport merah bagi kepemimpinan kalian yang sudah lama mampus.
Mengapa bantuan datang dengan helikopter, tapi pencegahan tak pernah datang dengan niat yang jujur? Misteri ini terjawab dalam setiap surat izin pembukaan lahan yang kalian teken di bawah meja yang mulus. Kalian sedang mempertaruhkan nyawa rakyat dalam perjudian investasi yang hasilnya hanya dinikmati oleh segelintir orang berkulit halus.
Mari kita bangun solidaritas digital seperti netizen Nepal, bersatu meruntuhkan narasi palsu pemerintah. Gunakan setiap kanal untuk menuntut akuntabilitas atas setiap tetes air yang masuk ke rumah warga. Jangan biarkan duka ini menjadi rutinitas yang membosankan sebelum semua aspirasi kita mereka bungkus.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar