Silogisme Debu di Atas Mimbar Antroposen
Di bawah langit Kalimantan yang kian pucat, kalian menyusun silogisme palsu tentang kemajuan. Diksi "hutan pintar" yang kalian gaungkan hanyalah selembar kosmetik untuk menutupi nekrosis pada jaringan biosfer yang kalian amputasi tanpa belas kasih. Aristoteles mungkin akan terpana melihat bagaimana sebuah 'Polis' dibangun bukan untuk kebahagiaan warganya, melainkan untuk keabadian ego penguasanya yang kian rakus.
Pohon-pohon ulin itu tidak butuh sensor digital; mereka butuh tanah yang tidak kalian jarah demi pilar-pilar beton yang angkuh. Kalian menciptakan simulakrum—sebuah kenyataan buatan yang lebih indah dari aslinya—agar mata dunia tidak melihat bagaimana rahim bumi sedang diperkosa demi investasi yang mengalir mulus.
Misteri pembangunan ini adalah hilangnya empati dalam setiap garis cetak biru yang kalian tanda tangani. Kalian bicara tentang masa depan, namun yang kalian wariskan hanyalah hutang oksigen dan debu yang menusuk paru-paru kami hingga kurus. Jangan harap alam akan diam; ia sedang mencatat setiap centimeter tanah yang kalian rampas dengan niat yang bulus.
Mari kita gaungkan frekuensi perlawanan dari balik layar gawai. Jangan biarkan algoritma meninabobokan amarahmu. Jika mereka bisa memindahkan ibu kota, kita bisa memindahkan kesadaran kolektif untuk menuntut tanggung jawab sebelum segalanya menjadi hangus. Bersatulah di ruang siber, jadikan setiap unggahan sebagai peluru yang menembus benteng kebohongan yang asal mereka bungkus.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar