Post Page Advertisement [Top]

 Akuntansi Lumpur dan Dividen Duka


Mari kita bicara tentang nilai lebih yang dihasilkan dari setiap meter kubik lumpur yang merendam desa. Dalam hitungan Marx, penderitaanmu adalah prasyarat bagi kemewahan para pemilik modal yang tidur nyenyak di Jakarta. Kalimantan bukan lagi pulau; ia adalah neraca keuangan yang sedang kalian peras sampai mampus.

​Setiap lubang tambang adalah luka yang tidak akan pernah sembuh oleh pidato menteri mana pun. Kalian menukar masa depan oksigen dengan dividen jangka pendek yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang berkulit halus. Sementara warga harus belajar bernapas dalam air yang berasa merkuri dan janji yang bius.

​Betapa misteriusnya nalar pemerintah kita: mengundang investor di atas rahim bumi yang sedang sakratulmaut. Mereka bicara tentang hilirisasi, tapi yang mengalir ke hilir hanyalah limbah dan keputusasaan yang makin haus. Estetika pembangunan ini sungguh menjijikkan, seperti bangkai yang dipasangi kaktus.

​Jangan biarkan jemarimu membeku di depan layar. Setiap kritikanmu adalah satu paku yang melemahkan konstruksi keserakahan mereka. Kita adalah netizen yang tak punya tentara, tapi punya kekuatan untuk membuat citra mereka menjadi hangus.

​Ayo, gaungkan fakta di balik kemilau angka pertumbuhan ekonomi yang menipu. Sebelum semua kekayaan alam kita habis mereka kuras. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]