Ziggurat Kaca di Paru yang Amputasi
Di atas meja perjamuan para teknokrat, peta itu bukan lagi tanah, melainkan selembar simulakrum. Mereka menjahit beton pada rahim bumi yang sedang meronta, menanam pilar-pilar angkuh di atas makam ribuan flora yang kehilangan hak hidupnya. Aristoteles mungkin akan bertanya: di manakah kebajikan jika kota dibangun dengan menghancurkan fondasi kehidupan?
Hutan Kalimantan yang dulu adalah paru-paru purba, kini dipaksa memakai topeng digital bernama "Smart City". Diksi "pintar" hanyalah eufemisme untuk menutupi ketidaktahuan mereka akan bahasa alam yang mulai serak. Kalian tidak sedang membangun peradaban; kalian sedang mendirikan monumen bagi keserakahan yang tak pernah merasa puas.
Lihatlah, bagaimana kera-kera itu menonton dari kejauhan, saat rumah mereka berubah menjadi debu dalam satu tanda tangan. Apakah kalian pikir kemegahan istana sanggup menahan amarah tanah yang bergeser karena kehilangan pegangan? Ini adalah sebuah tragedi estetis, di mana kemajuan diukur dari seberapa banyak hijau yang berhasil kalian hapus.
Maka, biarlah sajak ini menjadi alarm di tengah kebisingan ekskavator. Jangan biarkan layar ponselmu hanya menjadi penonton pasif atas pemerkosaan ekologi ini. Kita adalah saksi sejarah yang dipaksa menelan debu pembangunan demi kenyamanan mereka yang duduk di kursi empuk dan halus.
Genggamlah kemarahanmu, jadikan ia frekuensi yang merusak kenyamanan para penjarah. Jika satu pohon jatuh dalam sunyi, biarlah ribuan status di media sosial menjadikannya kebisingan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar