Post Page Advertisement [Top]

 AI dan Seniman yang Tak Lagi Sendiri


Pada suatu waktu, seni adalah percakapan sunyi antara manusia dan kesendiriannya. Seorang pelukis berbicara dengan kanvas, seorang penyair berbicara dengan kertas kosong, dan seorang musisi berbicara dengan udara yang bergetar oleh nada. Proses itu panjang, sering kali menyakitkan, tetapi justru di situlah seni menemukan ruhnya.

Hari ini, sebuah mesin bernama Artificial Intelligence mulai ikut duduk di meja kerja para seniman. Ia tidak memiliki masa kecil, tidak pernah patah hati, dan tidak pernah merasakan kehilangan. Namun anehnya, ia bisa menulis puisi, menggambar lukisan, bahkan menciptakan musik.

Pertanyaan pun muncul: apakah ini kemajuan, atau justru kemunduran yang menyamar sebagai teknologi?

Jika kita mengikuti logika klasik dari Aristotle, seni adalah mimesis—tiruan dari realitas. Dalam pengertian itu, AI mungkin hanya menjadi alat yang lebih cepat dalam meniru dunia. Ia mengumpulkan jutaan karya manusia, lalu memadukannya menjadi sesuatu yang tampak baru.

Namun seni bukan sekadar tiruan.

Seni adalah pengalaman yang diolah menjadi makna.

Di sinilah kegelisahan mulai muncul. Ketika sebuah puisi ditulis oleh AI dalam hitungan detik, kita harus bertanya: apakah puisi itu lahir dari penderitaan, atau sekadar dari algoritma?

Seorang penyair seperti Wiji Thukul tidak menulis karena ia ingin produktif. Ia menulis karena ia tidak punya pilihan lain selain bersuara. Puisinya adalah jeritan sejarah.

AI tidak pernah dijajah. AI tidak pernah dipenjara.

Tetapi AI bisa meniru suara perlawanan.

Ironi inilah yang membuat banyak seniman muda merasa gamang. Di satu sisi, AI membantu mereka bekerja lebih cepat. Di sisi lain, ia perlahan mengaburkan batas antara karya yang lahir dari pengalaman dan karya yang lahir dari perhitungan data.

Namun menolak AI sepenuhnya juga bukan jawaban.

Dalam sejarah manusia, setiap teknologi selalu memicu ketakutan yang sama. Mesin cetak pernah dianggap membunuh tradisi lisan. Kamera pernah dianggap membunuh seni lukis. Namun seni tidak pernah mati—ia hanya berubah bentuk.

Barangkali AI bukanlah musuh.

Barangkali ia hanya cermin.

Ia memaksa kita bertanya kembali: apa yang membuat karya manusia berbeda dari karya mesin?

Jawabannya mungkin sederhana.

Manusia tidak hanya menciptakan karya.

Manusia menciptakan makna.

Dan selama manusia masih memiliki luka, harapan, dan keberanian untuk menceritakannya, seni tidak akan pernah benar-benar kalah dari mesin.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]