Post Page Advertisement [Top]

 Masa Depan Seni di Dunia AI


Setiap zaman selalu melahirkan alat baru. Namun tidak semua alat mampu mengubah esensi manusia.

AI mungkin akan mengubah cara kita membuat seni, tetapi ia tidak dapat mengubah alasan mengapa seni dibuat.

Manusia menciptakan seni karena kita ingin dipahami.

Seorang filsuf Stoik seperti Marcus Aurelius pernah menulis bahwa manusia harus hidup sesuai dengan kodratnya. Kodrat manusia adalah berpikir, merasakan, dan mencari makna.

AI tidak memiliki kebutuhan itu.

Ia tidak mencari makna.

Ia hanya memproses informasi.

Karena itu, masa depan seni sebenarnya tidak bergantung pada teknologi.

Ia bergantung pada keberanian manusia untuk tetap jujur pada pengalamannya.

Anak muda hari ini memiliki peluang yang tidak pernah dimiliki generasi sebelumnya. Mereka dapat menggunakan teknologi untuk mengekspresikan ide dengan cara yang lebih luas.

Namun peluang itu juga membawa tanggung jawab.

Jika kita hanya menggunakan AI untuk meniru karya orang lain, maka seni akan menjadi kosong.

Tetapi jika kita menggunakan AI sebagai alat untuk memperdalam imajinasi kita, maka seni justru akan berkembang lebih jauh.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat.

Yang menentukan arah masa depan tetaplah manusia.

Dan selama manusia masih memiliki keberanian untuk bermimpi, seni akan selalu menemukan jalannya—bahkan di dunia yang dipenuhi mesin.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]