Ketika Asam Disiramkan ke Wajah Aktivis, Demokrasi Sedang Diuji di Cermin Sejarah
Malam di kota besar selalu menyimpan ironi. Lampu-lampu menyala seperti janji kemajuan, tetapi di sudut-sudutnya masih ada gelap yang menyimpan niat buruk. Di jalan yang sunyi di kawasan Salemba, seorang aktivis dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, Andrie Yunus, pulang setelah merekam sebuah diskusi tentang militerisme dan hukum. Ia tidak membawa apa-apa selain pikiran kritis. Namun dua orang di atas sepeda motor datang dari arah berlawanan. Bukan argumen yang mereka lemparkan. Yang meluncur adalah cairan asam yang membakar kulit dan wajahnya. Luka bakar itu mengenai hampir seperempat bagian tubuhnya. �
Reuters
Kejadian itu berlangsung hanya beberapa detik. Tetapi bagi demokrasi, ia membuka pertanyaan yang jauh lebih panjang daripada durasi serangan itu sendiri.
Di atas kertas, negeri ini adalah salah satu demokrasi terbesar di dunia. Konstitusi menjanjikan kebebasan berbicara, kebebasan berorganisasi, dan hak untuk mengkritik kekuasaan. Tetapi setiap kali seorang aktivis diserang karena suaranya, kita dipaksa melihat jarak antara teks hukum dan realitas sosial.
Demokrasi, jika dipahami secara jujur, bukan sekadar sistem memilih pemimpin. Demokrasi adalah ekosistem keberanian. Ia hidup dari keberanian warga untuk berkata tidak, bahkan kepada mereka yang memegang kekuasaan tertinggi. Ketika keberanian itu disiram dengan asam, maka yang sedang diuji bukan hanya tubuh seorang aktivis, tetapi juga integritas sebuah sistem politik.
Serangan terhadap aktivis bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari pola yang lebih luas. Dalam enam bulan pertama tahun 2025 saja, organisasi hak asasi manusia mencatat sedikitnya 104 pembela HAM menjadi korban serangan dalam 54 kasus berbeda di Indonesia. �
Amnesty Indonesia + 1
Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada jurnalis yang diintimidasi, masyarakat adat yang diusir dari tanahnya, mahasiswa yang dikriminalisasi, dan aktivis yang diteror. Angka itu adalah peta kecil dari sebuah kenyataan yang lebih besar: ruang sipil sedang mengalami tekanan.
Dalam logika kekuasaan yang sehat, kritik adalah mekanisme koreksi. Ia seperti rem pada kendaraan yang melaju terlalu cepat. Tanpa rem, kendaraan itu mungkin tetap bergerak—tetapi arah dan keselamatannya tidak lagi terjamin. Negara yang sehat seharusnya berterima kasih kepada mereka yang mengingatkan kesalahan. Namun dalam sejarah manusia, sering kali justru sebaliknya yang terjadi.
Kekuasaan yang mulai kehilangan kepercayaan diri akan melihat kritik sebagai ancaman. Ia tidak lagi membalas argumen dengan argumen. Ia mencari cara lain untuk membuat kritik itu berhenti.
Cara yang paling efektif bukan selalu penjara. Kadang cukup satu serangan brutal yang disaksikan publik.
Karena kekerasan memiliki satu fungsi politik yang sangat jelas: menciptakan efek psikologis kolektif.
Bayangkan seorang mahasiswa yang sedang menulis skripsi tentang hubungan militer dan demokrasi. Ia membaca berita tentang penyiraman asam terhadap seorang aktivis yang mengkritik hal yang sama. Pada saat itu, sesuatu yang kecil terjadi di dalam pikirannya. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri: apakah topik ini terlalu berbahaya?
Pertanyaan itu tampak sederhana. Tetapi di situlah sensor batin mulai tumbuh.
Ketika sensor batin mulai bekerja, kekuasaan tidak lagi perlu membungkam setiap suara. Masyarakat akan membungkam dirinya sendiri.
Sejarah otoritarianisme di berbagai negara selalu memperlihatkan mekanisme yang sama. Pertama, ruang kritik dipersempit. Kedua, para pengkritik diintimidasi. Ketiga, masyarakat perlahan belajar bahwa diam lebih aman daripada berbicara.
Namun ada satu hal yang sering dilupakan oleh mereka yang percaya pada logika ketakutan: sejarah juga menunjukkan bahwa kekerasan terhadap aktivis sering kali menghasilkan efek sebaliknya.
Ketika seorang aktivis diserang, publik tidak hanya melihat korban. Publik juga melihat sebab.
Dalam kasus Andrie Yunus, serangan itu terjadi setelah ia aktif mengkritik meningkatnya keterlibatan militer dalam ruang sipil dan baru saja merekam diskusi tentang isu tersebut. �
Reuters
Fakta ini membuat serangan itu tidak lagi terlihat sebagai peristiwa kriminal biasa. Ia berubah menjadi simbol politik.
Simbol bahwa kritik masih dianggap berbahaya.
Namun simbol juga memiliki sisi lain. Ia dapat memicu solidaritas.
Lebih dari 170 organisasi masyarakat sipil dan lembaga internasional mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk intimidasi terhadap pembela hak asasi manusia. �
Reuters
Solidaritas semacam ini penting bukan karena ia mampu menghapus luka pada wajah seorang aktivis. Luka itu akan tetap ada, mungkin seumur hidup. Tetapi solidaritas publik mengirim pesan yang berbeda kepada pelaku kekerasan: bahwa masyarakat tidak mudah ditakuti.
Pada akhirnya, demokrasi bukanlah bangunan yang berdiri karena undang-undang saja. Ia berdiri karena keberanian warga yang menolak hidup dalam ketakutan.
Serangan terhadap Andrie Yunus adalah tragedi bagi satu orang. Tetapi ia juga merupakan ujian bagi seluruh masyarakat.
Jika masyarakat memilih diam, maka asam itu telah bekerja lebih jauh daripada yang terlihat. Ia tidak hanya membakar kulit, tetapi juga keberanian publik.
Namun jika masyarakat memilih untuk tetap bersuara, maka serangan itu gagal mencapai tujuan politiknya.
Demokrasi mungkin terluka malam itu. Tetapi luka bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Luka sering kali justru menjadi alasan mengapa perjuangan harus terus dilanjutkan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar