Post Page Advertisement [Top]



 “Negeri yang Sibuk Mengunyah, Lupa Mencerna”


Di halaman sekolah, antrean makan lebih rapi daripada antrean buku. Anak-anak belajar satu hal lebih cepat dari yang lain: bagaimana menunggu jatah, bukan bagaimana mencari jawaban.

Negeri ini sedang belajar mengunyah—tapi lupa mencerna.

Argumen

Program MBG adalah kebijakan yang mudah dipahami, mudah difoto, dan mudah dipuji. Ia hadir dalam bentuk konkret: makanan di tangan, senyum di wajah, angka distribusi yang bisa dilaporkan.

Berbeda dengan pendidikan. Ia lambat, tidak kasat mata, dan sering kali tidak memberi hasil dalam satu periode kekuasaan.

Data menunjukkan, anggaran pendidikan Indonesia memang besar secara nominal (sekitar 20% APBN), namun efektivitasnya masih dipertanyakan: distribusi tidak merata, kualitas guru timpang, dan infrastruktur banyak tertinggal.

Masalahnya bukan sekadar jumlah, tapi arah. Ketika energi politik lebih condong pada program yang cepat terlihat, maka pendidikan—yang sunyi dan panjang—menjadi korban prioritas.

Antitesis

Ada yang berkata: “Rakyat butuh solusi cepat.”

Benar. Tapi solusi cepat sering kali hanya meredam gejala, bukan menyembuhkan penyakit.

Sintesis

Negara harus berani keluar dari logika popularitas. Kebijakan terbaik bukan yang paling terlihat, tapi yang paling berdampak dalam jangka panjang.

Pendidikan harus kembali menjadi proyek peradaban, bukan sekadar kewajiban anggaran.

Penutup

Sebab bangsa yang terlalu sibuk mengunyah tanpa mencerna, pada akhirnya akan kenyang—tapi tetap bodoh.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]