Post Page Advertisement [Top]

Republik yang Diuji oleh Ketakutan

Ada jenis kekerasan yang bertujuan menghancurkan tubuh. Tetapi ada pula kekerasan yang bertujuan menghancurkan keberanian.

Serangan terhadap Andrie Yunus adalah jenis yang kedua.

Dua orang di atas sepeda motor, cairan asam yang dilemparkan, tubuh yang terbakar, dan jeritan di tengah malam—semua itu bukan hanya tindakan kriminal. Ia adalah pesan. Pesan yang ditujukan kepada semua orang yang memiliki keberanian untuk mengkritik kekuasaan.

Pesan itu sederhana: berhati-hatilah ketika berbicara terlalu keras.

Di dalam filsafat politik, negara demokratis selalu dibangun di atas satu asumsi moral: warga negara adalah makhluk rasional yang mampu berdebat secara terbuka. Karena itu, konflik politik dalam demokrasi seharusnya diselesaikan melalui argumen, bukan melalui kekerasan.

Ketika kekerasan mulai menggantikan argumen, maka demokrasi sedang mengalami kemunduran moral.

Indonesia sering disebut sebagai demokrasi terbesar ketiga di dunia. Sebuah negara dengan ratusan juta penduduk, ribuan pulau, dan sejarah panjang perjuangan melawan otoritarianisme. Namun ukuran demokrasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah pemilih dalam pemilu.

Ukuran yang lebih jujur adalah bagaimana negara memperlakukan kritik.

Jika kritik dianggap ancaman, maka demokrasi hanya menjadi ritual prosedural.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai laporan menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap pembela hak asasi manusia. Laporan organisasi HAM mencatat lebih dari seratus pembela HAM mengalami serangan hanya dalam paruh pertama tahun 2025, mulai dari intimidasi hingga kekerasan fisik. �

Amnesty Indonesia + 1

Angka itu menunjukkan bahwa masalah ini bukan sekadar insiden sporadis. Ia adalah gejala struktural.

Di balik setiap serangan terhadap aktivis, selalu ada konflik kepentingan yang lebih besar. Aktivis lingkungan berhadapan dengan perusahaan besar. Aktivis agraria berhadapan dengan kekuatan ekonomi dan politik. Aktivis demokrasi berhadapan dengan kekuasaan yang tidak nyaman diawasi.

Karena itu, serangan terhadap aktivis jarang benar-benar acak. Ia sering muncul di titik di mana kepentingan besar sedang dipertaruhkan.

Namun demokrasi memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki oleh sistem otoriter: kemampuan untuk memperbaiki diri melalui kritik.

Aktivis, jurnalis, akademisi, dan mahasiswa adalah bagian dari mekanisme koreksi itu.

Mereka adalah mata yang melihat ketika negara mulai kehilangan arah.

Jika mata itu dibutakan oleh ketakutan, negara akan berjalan tanpa penglihatan.

Sejarah menunjukkan bahwa negara yang kehilangan kemampuan untuk dikritik akan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya: kekuasaan yang percaya dirinya selalu benar.

Dan kekuasaan yang merasa selalu benar adalah awal dari segala bentuk tirani.

Karena itu, pertanyaan terbesar dari peristiwa ini bukan hanya siapa pelaku penyerangan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat meresponsnya.

Apakah publik melihatnya sebagai tragedi yang harus dilupakan setelah beberapa hari?

Atau sebagai peringatan bahwa demokrasi membutuhkan penjaga yang berani?

Di dalam setiap demokrasi, selalu ada kelompok kecil yang bersedia mengambil risiko untuk mengatakan kebenaran. Mereka adalah aktivis, penulis, dan warga yang menolak tunduk pada ketidakadilan.

Mereka sering terlihat seperti minoritas. Tetapi dalam sejarah, minoritas semacam itulah yang menjaga masa depan sebuah bangsa.

Jika mereka dibiarkan sendirian menghadapi kekerasan, demokrasi akan menjadi rapuh.

Namun jika masyarakat berdiri bersama mereka, maka kekerasan kehilangan kekuatannya.

Karena pada akhirnya, ketakutan hanya bekerja jika orang percaya bahwa mereka sendirian.

Dan demokrasi hanya hidup jika masyarakat menolak percaya pada ketakutan itu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]