Padang Pasir yang Terbakar: Ketika Perang Menjadi Industri
Pada suatu pagi yang jauh dari Timur Tengah, saya membuka peta dunia dan menemukan satu warna yang selalu menyala: api. Api itu tidak pernah benar-benar padam. Ia hanya berpindah tempat—dari Irak, Suriah, Gaza, Yaman, lalu kembali lagi ke titik yang sama seperti lingkaran kutukan sejarah.
Padang pasir yang dulu melahirkan peradaban kini menjadi ladang eksperimen senjata.
Ironisnya, perang tidak lagi diperlakukan sebagai tragedi. Ia telah berubah menjadi industri.
Bom jatuh bukan hanya menghancurkan rumah. Ia menghidupkan grafik saham perusahaan persenjataan.
Dan di sinilah dunia modern memperlihatkan paradoksnya: manusia mengaku paling rasional dalam sejarah, tetapi justru paling sistematis dalam menghancurkan dirinya sendiri.
Setiap perang selalu datang dengan narasi moral. Ada yang disebut pembelaan diri, ada yang disebut stabilitas kawasan, ada pula yang dinamai perang melawan terorisme.
Namun bila kita sedikit jujur pada logika, pertanyaannya sederhana:
mengapa perang itu selalu terjadi di wilayah yang sama?
Timur Tengah menyimpan hampir 48% cadangan minyak dunia menurut data Energy Information Administration. Jalur perdagangan energi global bertumpu pada Selat Hormuz. Di sanalah nadi ekonomi dunia berdetak.
Ketika sebuah wilayah menyimpan sumber daya vital, ia tidak hanya menjadi wilayah geografis. Ia berubah menjadi papan catur kekuasaan.
Dalam permainan itu, negara-negara besar datang membawa retorika kebebasan. Tetapi jejak yang tertinggal justru berupa tanah yang tercemar uranium, ladang minyak yang terbakar, dan generasi anak yang tumbuh bersama suara drone.
Perang Irak 2003 adalah contoh telanjang dari logika ini. Invasi dilakukan dengan dalih senjata pemusnah massal yang kemudian terbukti tidak pernah ada. Namun setelah perang usai, perusahaan energi dan kontraktor militer mendapatkan proyek bernilai miliaran dolar.
Dari sudut pandang seorang warga Indonesia, saya melihat ironi ini dengan getir.
Negeriku pernah dijajah selama ratusan tahun oleh bangsa yang datang membawa alasan peradaban. Mereka berkata ingin membawa kemajuan, tetapi yang dibawa pulang adalah rempah-rempah dan kekayaan bumi.
Sejarah kolonialisme tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti pakaian.
Kini ia hadir dalam bentuk intervensi militer, embargo ekonomi, dan aliansi strategis yang tidak pernah netral.
Yang paling sunyi dari perang ini adalah lingkungan.
Laporan Program Lingkungan PBB menunjukkan bahwa konflik bersenjata menyebabkan kerusakan ekosistem yang sering kali tidak bisa dipulihkan selama puluhan tahun. Tanah menjadi racun, air tanah tercemar, udara dipenuhi partikel logam berat.
Padang pasir yang tampak sunyi itu sebenarnya sedang sekarat.
Dan dunia memilih diam.
Sebagai warga dari negeri yang lahir dari perjuangan anti-kolonial, saya percaya satu hal: perdamaian tidak bisa dibangun oleh mereka yang memperoleh keuntungan dari perang.
Dunia membutuhkan keberanian moral baru—bukan dari negara adidaya, tetapi dari masyarakat sipil global.
Indonesia memiliki sejarah diplomasi yang unik. Kita pernah menggagas Konferensi Asia-Afrika, sebuah momen ketika negara-negara yang baru merdeka mencoba berkata kepada dunia: cukup.
Mungkin hari ini semangat itu perlu dihidupkan kembali.
Bukan untuk melawan satu negara tertentu, tetapi untuk melawan logika perang itu sendiri.
Karena bila perang terus diperlakukan sebagai industri, maka masa depan manusia hanya akan menjadi statistik korban.
Dan sejarah akan mencatat kita sebagai generasi yang tahu segalanya—namun tidak melakukan apa-apa.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar