Post Page Advertisement [Top]

Abad yang Lelah: Ketika Kekuasaan Global Kehilangan Nurani

Abad ini sering dipuji sebagai abad teknologi.

Manusia mampu mengirim robot ke Mars, menciptakan kecerdasan buatan, dan membangun jaringan informasi yang menghubungkan miliaran orang.

Namun ada satu hal yang tidak berubah sejak zaman kerajaan kuno: hasrat untuk berkuasa.

Perang di Timur Tengah adalah bukti bahwa teknologi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan.

Ia hanya membuat kehancuran menjadi lebih efisien.

Argumen

Drone tempur modern mampu terbang ribuan kilometer dan menjatuhkan bom dengan presisi tinggi. Para perancangnya menyebut teknologi ini sebagai bentuk perang yang lebih “bersih”.

Tetapi kata “bersih” terdengar absurd ketika kita melihat kenyataan.

Bangunan runtuh. Rumah sakit hancur. Infrastruktur air dan listrik lumpuh.

Anak-anak tidak peduli apakah bom itu presisi atau tidak. Yang mereka tahu hanyalah suara ledakan.

Sejak 2001, berbagai operasi militer di Timur Tengah telah menyebabkan ratusan ribu korban sipil, menurut laporan Brown University “Costs of War Project”.

Namun statistik ini sering hilang dalam hiruk pikuk propaganda politik.

Sebagai warga Indonesia, saya melihat fenomena ini dengan rasa deja vu sejarah.

Dulu bangsa saya juga menjadi objek permainan geopolitik global. Perdagangan, aliansi, dan perang dilakukan di atas tanah kami tanpa mempertimbangkan kehidupan rakyat.

Hari ini, Timur Tengah mengalami hal yang serupa.

Negara besar datang dengan jargon demokrasi, tetapi sering kali meninggalkan kekacauan politik dan kehancuran sosial.

Ketika rezim lama runtuh, stabilitas tidak otomatis lahir. Yang muncul justru konflik baru.

Perang seperti membuka kotak Pandora.

Dan yang paling menyedihkan adalah kerusakan lingkungan yang jarang dibicarakan.

Kebakaran ladang minyak di Irak pada 1991 melepaskan jutaan ton karbon ke atmosfer. Laut Teluk tercemar oleh tumpahan minyak dalam skala besar.

Perang bukan hanya tragedi manusia. Ia adalah tragedi planet.

Barangkali kita perlu bertanya kembali pada diri sendiri: apa arti kemajuan?

Jika kemajuan hanya berarti kemampuan menghancurkan lebih cepat, maka kita sebenarnya sedang berjalan mundur.

Sebagai generasi muda Indonesia, saya percaya bahwa dunia membutuhkan perspektif baru dari negara-negara yang tidak terjebak dalam logika kekuasaan global.

Kita pernah menunjukkan bahwa solidaritas antarbangsa mungkin terjadi.

Mungkin suara itu kecil. Namun sejarah sering berubah oleh suara kecil yang berani.

Perdamaian tidak lahir dari kekuatan senjata, tetapi dari keberanian untuk menghentikan lingkaran kekuasaan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]