“Negara Punya Motor Trail untuk Ketua SPPG, Tapi Tidak Punya Jawaban untuk Rakyat”
Di negeri yang katanya sedang berlari menuju kemajuan, kita justru sering menemukan ironi yang berjalan lebih cepat dari logika. Ketika sebagian anak muda masih tertatih mencari pijakan hidup, sebuah kebijakan hadir dengan wajah yang sulit dimengerti: pemberian fasilitas kendaraan kepada mereka yang telah memiliki posisi. Sebuah keputusan yang tampak sederhana, namun menyimpan pertanyaan besar tentang arah keadilan.
Kita tidak sedang berbicara tentang benda bernama motor. Kita sedang membicarakan simbol—tentang siapa yang dipercepat, dan siapa yang dibiarkan berjalan. Sebab dalam setiap kebijakan, selalu ada pesan yang tersembunyi: kepada siapa negara memberi prioritas, dan kepada siapa negara meminta kesabaran.
Anak muda hari ini hidup dalam tekanan yang sunyi. Mereka diminta untuk tangguh, kreatif, dan mandiri dalam dunia yang tidak selalu memberi ruang yang adil. Mereka belajar bertahan dengan keterbatasan, bahkan sering kali tanpa jaminan bahwa usaha mereka akan berbuah. Lalu, di tengah perjuangan itu, mereka melihat fasilitas justru jatuh ke tangan yang sudah mapan dalam struktur.
Di titik inilah kegelisahan itu lahir. Bukan karena iri, melainkan karena kesadaran. Bahwa ada sesuatu yang tidak seimbang. Bahwa yang seharusnya diperkuat justru dibiarkan rapuh, sementara yang sudah kuat terus diberi penopang.
Saya melihat ini bukan hanya soal distribusi fasilitas, tetapi juga soal arah pembangunan yang semakin menjauh dari prinsip keberlanjutan. Kita berbicara tentang efisiensi, tentang energi, tentang masa depan bumi—namun di saat yang sama, kebijakan sering kali lebih cepat melayani kepentingan struktural daripada kebutuhan ekologis dan sosial.
Bukankah pembangunan seharusnya dimulai dari yang paling membutuhkan? Bukankah kemajuan seharusnya diukur dari seberapa jauh kita mengangkat yang tertinggal, bukan seberapa cepat kita mendorong yang sudah di depan?
Kita hidup di zaman di mana kata “adil” sering diucapkan, tetapi jarang dirasakan. Di mana kebijakan dirancang dengan bahasa yang indah, namun hasilnya kerap terasa asing bagi mereka yang berada di bawah. Dan di situlah pemuda mulai belajar—bahwa tidak semua yang benar itu otomatis terjadi.
Namun, sejarah selalu mencatat satu hal: perubahan tidak pernah lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari kegelisahan yang dipelihara, dari kesadaran yang tidak mau dibungkam. Dan hari ini, kegelisahan itu hidup di dada banyak anak muda yang mulai bertanya—ke mana sebenarnya arah negeri ini berjalan?
Kritik bukanlah bentuk kebencian. Ia adalah bentuk cinta yang tidak ingin melihat bangsanya tersesat. Ia adalah suara yang menolak diam ketika keadilan mulai kehilangan makna. Dan dalam konteks ini, mempertanyakan kebijakan bukanlah tindakan melawan, melainkan bentuk tanggung jawab sebagai warga yang peduli.
Kita tidak butuh kebijakan yang sekadar terlihat maju. Kita butuh kebijakan yang benar-benar terasa adil. Yang tidak hanya mempercepat segelintir, tetapi juga menguatkan yang tertinggal. Yang tidak hanya membangun dari atas, tetapi juga tumbuh dari bawah.
Pemuda hari ini tidak lagi haus janji. Mereka haus bukti. Mereka tidak lagi mudah percaya pada narasi, tetapi mulai melihat realita. Dan jika realita terus menunjukkan ketimpangan, maka yang lahir bukan hanya kritik—tetapi juga ketidakpercayaan.
Maka mungkin, yang perlu kita lakukan bukan hanya melaju lebih cepat, tetapi berhenti sejenak untuk melihat ke belakang. Apakah semua sudah ikut dalam perjalanan ini, atau justru ada yang tertinggal terlalu jauh? Sebab kemajuan sejati bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi tentang siapa yang tidak ditinggalkan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar